Home / Berita Terkini / BEREH, Catatan Perjalanan Keliling Aceh

BEREH, Catatan Perjalanan Keliling Aceh

Selama mengikuti perjalanan Gerakan BEREH keliling Aceh, saya merekam antusiasme untuk berbenah, bahkan hingga di kantor kecamatan. Tapi, juga merekam kegelisahan, bahkan emosi.

Di Gunung Meriah, Singkil petugas di kantor kecamatan sangat gembira ketika Sekda Aceh, dr Taqwallah, M. Kes memuji lingkungan tempat kerja mereka.

“Tolong dijaga ya, dipertahankan kondisi yang ada, dan dihalaman ditanam pohon,” kata Taqwa berpesan, yang kemudian serentak disanggupi.

“Baik, Pak. Terimakasih sudah berkunjung, datang-datang lagi, ya Pak,” sebut salah seorang petugas perempuan.

Pak Camat terlihat tersenyum, dan beberapa hari berikutnya, bersama kepala desa, mereka mengikrarkan gerakan BEREH di lingkungan tempat kerja kantor desa masing-masing.

Antusiasme yang sama juga disampaikan oleh sejumlah peserta Rapat Kerja Lanjutan tentang BEREH, akronim dari Bersih, Rapi, Estetis dan Hijau.

Gerakan BEREH sendiri diinisiasi Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT, dan dijalankan oleh Sekda Aceh sebagai bagian dari tugas meningkatkan kinerja ASN, yang awalnya diimplementasi di lingkungan tempat kerja SKPA.

Gerakan BEREH lalu diperluas ke daerah dengan dukungan atau support Bupati/Walikota dan Wakil yang melibatkan Sekda Kabupaten/Kota, juga dalam usaha meningkatkan kinerja agar secara serentak manfaat dari pelayanan publik makin maksimal dan meluas.

Dalam bincang-bincang saya dengan beberapa peserta di banyak lokasi pertemuan, pada dasarnya mereka juga mau berkerja di lingkungan yang bersih, rapi estetis, dan hijau.

“Tapi, darimana kita mulai. Bingung saya, dan saya rasa teman-teman saya juga begitu, bingung.”

“Bagaimana mau BEREH, dikantor Bupati saja, coba saja di sidak, belum BEREH, andai yang di atas memberi teladan, kan lebih enak.”

“Ini ada uangnya. Jika ada enak, semangat untuk wujudkan BEREH. Dah parah kali, tadi lihatkan lemari dokumen, ndak tahu itu dokumen, apa sampah ya, ndak berani kami utak atik.”

“Tidak ada yang memimpin dengan keras saja, jika ada pasti cepat wujudkan BEREH.”

“Malu juga hati saya usai mendengar materi dari Sekda Aceh.”

Saya tidak hanya merekam testimoni peserta, tapi juga menyimak raut wajah Bupati/Walikota atau wakilnya, atau Sekda yang ikut hadir di Rapat Kerja Lanjutan, atau saat mereka ikut menemani Sidak.

Wajah antusias terlihat ketika Sekda Aceh dengan materinya membuka “jendela pikiran” ASN yang kemudian bersemangat untuk BEREHkan lingkungan tempat kerja masing-masing.

Tapi, tidak jarang wajah mereka juga ada yang terkejut, bahkan ikut marah atau emosi, atau terlihat malu hati, ketika menemukan ruangan kerja yang belum BEREH.

Bahkan, ada Sekda yang emosi ketika ruang kerjanya yang dikunjungi, ternyata juga belum BEREH. Beruntung, usai mengikuti materi, Sekda salah satu daerah itu menyadari dan kemudian membantu menghimbau ASN untuk mengikuti apa yang sudah disampaikan oleh Sekda Aceh.

Gerakan BEREH memang telah menggerakkan usaha untuk berbenah, dan melalui group kecamatan, kantor-kantor kecamatan saling unjuk diri jika mereka terus membenahi lingkungan tempat kerja masing-masing.

Gerakan BEREH yang awalnya dipimpin Sekda Aceh ini diharapkan membangun keteladanan yang oleh Sekda kabupaten -kota. Dan, pada saat ASN menjadi teladan itu sendiri maka manfaat besar akan dipetik langsung oleh masyatakat dalam wujud pelayanan publik maksimal.

Dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, saya kerap terhadirkan visualisasi rakyat yang mendapatkan haknya bersebab produktivitas ASN yang berkerja dilingkungan tempat kerja yang makin BEREH.

Saya tak bisa berharap rekan-rekan menjadi pendukung Gerakan BEREH seperti saya, sebab Aceh adalah provinsi dengan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tertinggi, dimana kebebasan berekspresi sangat tinggi.

Di Aceh, ASN saja tidak dipermasalahkan oleh pimpinannya jika berbeda pandangan apalagi jika berbeda penglihatan dengan orang seperti saya. Biasa aja! Lapor melapor ke polisi hanya pernah terjadi pada masa Pilpres lalu. Paska Pilpres, caci maki keras pun, biasaaaa aja!

Dengan IDI yang terus tinggi, beragam kritik di Aceh bagai beragam menu kuliner di pameran makanan, semua terpikat untuk memasak, mencicipi, termasuk masakan pedas sekalipun.

Di sisi pembangunan demokrasi, Aceh Hebat sudah terwujud, dan jika BEREH menjadi gerakan, minimal di lingkungan ASN, maka pintu Aceh Hebat dibidang lainnya akan terbuka lebih banyak lagi.

Oleh: Risman Rachman

Check Also

( Video ) Ayo ke Festival Lut Tawar 2019