Home / Berita Terkini / Empat Kriteria Pengemban Risalah Islam

Empat Kriteria Pengemban Risalah Islam

Humas Aceh | 17 Maret 2016

Banda Aceh – Dalam Surat Al-Asr, Allah bersumpah demi masa (waktu) untuk mengingatkan manusia yang sentiasa berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.

Allah tidak akan pernah bersumpah kepada sesuatu kecuali itu sangat penting, dalam hal ini adalah waktu. Sebagian ulama berpendapat waktu yang dimaksudkan dalam surat tersebut mengacu kepada waktu asar, yang merupakan waktu terbaik dari segala waktu, dimana kebanyakan manusia sibuk dengan aktivitas sehari-harinya, namun berada dalam kerugian.

Demikian disampaikan Ustadz H. Muzakkir A. Hamid, Staf Khusus Gubernur Aceh saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (16/3) malam.

Keutamaan waktu dalam Surat Al-Asr menurut Ustadz Muzakkir mengingatkan kita bahwa tidak sesuatu pun di dunia yang kekal abadi. Bahkan Fir’aun yang terkenal dimasanya memliki banyak kuasa dan harta luar biasa harus berdepan dengan kematian. Suatu saat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW memberikan nasihat kepada Baginda, “Wahai Muhammad hiduplah sesuka hatimu, tetapi (ingat) engkau akan mati (meninggal). Cintailah orang yang engkau senangi, tetapi (ingat) engkau akan berpisah dengannya. Dan beramallah sesuka hatimu, niscaya engkau akan mendapatkan balasannya.” (Riwayat Al Baihaqi).

Dijelaskannya, Al Quran sebagai sebuah mukjizat yang diturunkan kepada umat muslim telah memberikan mengajarkan kita banyak hal dari segala aspek kehidupan dan kebenaran yang hakiki. Allah malah menantang manusia untuk membuat satu ayat saja untuk menandingi keagungan frimanNya.

“Dalam Surat Al-Asr, meskipun tergolong pendek, tapi sangat jarang orang Islam yang menghayati kandungan makna yang tersirat didalamnya. Bahkan begitu pentingnya surat sehingga Imam Syafi’i mengumpamakan surat ini seraya berkata seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka,” kata Ustadz yang pernah puluhan tahun bermukim di luar negeri termasuk di Malaysia dan Swedia.

Menurutnya, jika dipelajari lebih dalam, surat Al-Asr mengajarkan manusia lebih dari pentingnya waktu, yaitu agar kita selalu berpegang teguh kepada agama Allah dengan beriman, beramal soleh, mengemban risalah Islam dengan nasihat dan dakwah dan bersikap sabar.

“Keempat kriteria inilah yang harus ada dalam setiap muslim, terutama pada para pemimpin di Aceh saat ini,” katanya.

Pemimpin dalam Islam bukan sekedar bekerja mengelola pemerintahan dan memakmurkan rakyat, tapi juga sebagai pengemban risalah Islam keseluruh penjuru dunia melalui dakwah. Pemimpin yang dimaksudkan tidak hanya di tingkat pemerintahan, tapi semua dari kita juga termasuk pemimpin, sepertimana hadist Rasullah SAW yang bermaksud “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Menjadi seorang pemimpin yang beriman bukanlah sesuatu yang diwarisi dari orang tua, melainkan dari ilmu yang diwajibkan kepada setiap mukmin semenjak waktu lahir sampai ke liang lahad. Setelah seseorang mempunyai ilmu, makanya imannya akan menjadi semakin kokoh karena didasari oleh pemahaman dari ilmu yang didapatkan olehnya.

“Dengan iman yang kokoh, maka lahirlah amal-amal soleh dari setiap tingkah lakunya yang diyakini sebagai ibadah. Setiap perbuatan orang yang beriman jika didasari dengan niat yang tulus karena Allah maka itu merupakan ibadah yang mendapat ganjaran olehNya,” jelas Ustadz Muzakkir.

Dijelaskannya, tugas pemimpin adalah bukan untuk memenuhi kepentingan pribadinya, tapi Allah juga menyerukan setiap mukmin untuk menjadi sebagai agen perubahan dalam masyarakat dengan mengemban tugas sebagai juru dakwah, yang saling menasihati orang berbuat mungkar. Tugas mengemban risalah islam ini tidak hanya kepada manusia biasa, tapi juga para pemimpin yang mempunyai kewenangan serta tanggungjawab yang lebih besar. Tentu dalam setiap tugas ini, Allah mengisyaratkan manusia untuk selalu bersikap sabar dalam menghadapi segala cobaan dan tindakannya.

“Selain mengajarkan kita kepada empat kriteria diatas, Surat Al-Asr juga mengingatkan kita akan keberadaan dunia yang bersifat sementara dimana setiap perbuatan dan amal manusia akan mendapat pertanyaan dari Allah, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadist Rasullah SAW, “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas Siratul Mustaqim) sehingga ia di tanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana ia peroleh dan dikemanakan ia habiskan dan badan diwaktu sehat mudanya untuk apa ia gunakan”,” ujarnya

Check Also

Pemerintah Aceh Sepakati Konektivitas Andaman-Nicobar India

Banda Aceh – Pemerintah Aceh sepakat melakukan pengembangan konektivitas dan kerja sama ekonomi antara Aceh …