Home / Berita Terkini / Gubernur Aceh dukung pendirian studi bahasa dan budaya Aceh

Gubernur Aceh dukung pendirian studi bahasa dan budaya Aceh

Banda Aceh, 10-12-2015 | Humas Aceh

Banda Aceh –  Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah mendukung pendirian pusat studi bahasa dan budaya lokal di kampus perguruan tinggi negeri Aceh guna melestarikan keberagaman dan kekayaan budaya lokal di Aceh.

peradaban aceh2 “Karena begitu banyaknya nilai budaya di daerah kita ini, maka sudah pantas Aceh mempunyai satu pusat studi yang membahas dan mengkaji tentang budaya dan kearifan lokal yang ada, termasuk pengembangan bahasa daerah,” kata Gubernur Zaini saat membuka Kongres Peradaban Aceh di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Banda Aceh, Rabu (9/12).

Kongres yang berlansung selama dua hari tersebut mengangkat tema “Penguatan Bahasa-Bahasa Lokal di Aceh” dan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Anies Baswedan, anggota DPR RI asal Aceh, Teuku Rifky Harsya dan Muslim Ayub, Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al-Haytar, Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof Dr Ir Samsul Rizal M.Eng, Kepala Biro Humas Setda Aceh, Frans Delian serta beberapa kepala SKPA lainnya.

Gubernur berharap dengan adanya satu pusat studi tersebut, kekayaan bahasa-bahasa di Aceh dapat digali kembali, sehingga masyarakat memahami akar budaya lokal sebagai identitas Aceh.

“Sebagai sebuah bangsa, Aceh dihuni sejumlah suku yang tersebar di berbagai wilayah, antara lain Aceh pesisir, Gayo, Alas, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Kluet, Aneuk Jamee, Devayan, Pak-Pak, Haloban dan lain sebagainya. Menariknya, masing-masing sub etnis itu memiliki bahasa lokal tersendiri. Semua bahasa itu adalah kekayaan budaya yang harus kita lestarikan,” ujar Gubernur.

Bangsa Aceh menurut Gubernur telah menyumbangkan peran yang besar terhadap perkembangan bahasa di nusantara, yaitu bahasa Melayu yang dipopulerkan oleh penasihat dan mufti Kesultanan Aceh, Syaikh Abdurrauf Al-Singkili atau Syiah Kuala.

“Pada masa kegemilangannya, Kerajaan Aceh menjadi pusat peradaban bahasa Melayu sebagai bahasa utama di nusantara dan sangat mendukung perkembangan bahasa sebagai jatidiri sebuah peradaban,” tegas Gubernur.

Kepada para peserta Kongres Peradaban Aceh, Gubernur berpesan supaya kongres tersebut dapat merumuskan langkah dan program yang efektif untuk menggali, memperkuat, melestarikan dan mempromosikan peradaban Aceh, khususnya terkait bahasa-bahasa lokal di daerah ini.

“Pelestarian bahasa dan budaya daerah merupakan kewajiban kita semua, para mahasiswa, guru, dan tenaga pengajar dari tingkat sekolah hingga ke perguruan tinggi.

“Semoga kongres ini dapat memberikan rekomendasi yang komprehensif, sehingga kita mempunyai langkah efektif untuk merawat dan menjaga kelestarian bahasa dan budaya daerah di Aceh,” pungkas Gubernur.

 

 

Check Also

[Video] Dyah Erti Mendidik Anak harus Ikuti Perkembangan Zaman