Home / Berita Terkini / Gubernur Aceh, Terima Hibah Aset Asrama Mahasiswa Aceh di Pulau Jawa

Gubernur Aceh, Terima Hibah Aset Asrama Mahasiswa Aceh di Pulau Jawa

Humas Aceh | 20 Jan 2016

BANDA ACEH: Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah menerima hibah berupa lima Asrama Putri “Pocut Baren” yang berlokasi Depok, Yogyakarta, Bandung, Malang dan Bogor untuk dijadikan sebagai tempat penghinapan bagi mahasiswa asal Aceh yang melanjutkan pendidikan tinggi di kota-kota tersebut.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Gerbang Anak Sejahtera (GAS), Hasan Saad menyerahkan secara lansung hibah kelima asrama tersebut melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) antara Pemerintah Aceh dan pihak yayasan di Pendopo Gubernur, Banda Aceh, Rabu (20/1).

Gubernur Zaini dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pengurus yayasan karena telah menyahuti surat himbauan yang dikirimkan oleh dirinya beberapa waktu lalu kepada pengelola asrama mahasiswa Aceh, baik yayasan maupun Perkumpulan Masyarakat Aceh di Pulau Jawa.

Dalam surat tersebut menurut Gubernur Aceh, Pemerintah mennghimbau kepada pengelola asrama mahasiswa asal Aceh di Pulau Jawa untuk dapat melakukan pengamanan dan pemeliharaan terhadap aset-aset asrama guna menghindari perselisihan dan sengketa dikemudian hari.

“Dalam surat tersebut juga dinyatakan pihak pengelola dapat meminta kepada Pemerintah Aceh untuk mengamankan, memelihara dan mengelola asrama tersebut dengan terlebih dahulu mengalihkan aset asrama kepada Pemerintah Aceh,” ujar Gubernur Aceh.

Menurut Gubernur dengan berlansungnya proses penyerahan tersebut, Pemerintah Aceh akan mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan kelima asrama tersebut yang akan diperuntukkan kepada mahasiswa asal Aceh dalam melanjutkan pendidikannya di beberapa perguruan tinggi di Pulau Jawa.

“Keberadaan asrama ini cukup penting bagi para mahasiswa terutama bagi anak-anak Aceh yang kurang mampu dan berprestasi. Asrama ini diharapkan mampu menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman serta melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh negatif dan tidak islami selama berada disana,” kata Gubernur.

Gubernur Zaini menambahkan bahwa tempat tinggal adalah salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan para mahasiswa saat belajar di tanah rantau, sehingga banyak yayasan yang menyediakan asrama bagi mahasiswa dan pelajar yang belajar di tanah rantau. “Namun karena sifatnya non profit, pengelolaan asrama-asrama tersebut umumnya tidak berjalan optimal sehingga ada asrama yang terkesan seperti tidak terawat,” katanya.

Menindaklanjuti hal tersebut, Gubernur Aceh meminta kepada Dinas Pendidikan, Dinas Cipta Karya dan Dinas Kekayaan dan Pendapatan Aceh serta Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) lainnya untuk dapat menyusun program kerja bagi pengelolaan asrama-asrama yang kini menjadi bagian dari aset daerah tersebut.

“Pemerintah Aceh siap untuk membangun sistem manajemen yang terbaik dalam pengelolaan asrama itu. Dengan pengelolaan yang terpusat, saya yakin kita akan bisa menyediakan tempat tinggal yang ideal bagi mahasiswa Aceh saat belajar di Pulau Jawa. Langkah ini merupakan bagian dari program pendidikan Aceh dalam rangka memfasilitasi generasi muda Aceh menjadi generasi yang cerdas, berkualitas, dan inovatif,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan GAS, Hasan Saad mengatakan pihaknya sangat mengharapkan peran Pemerintah Aceh dalam mengelola dan memelihara asrama-asrama mahasiswa Aceh yang ada di luar Aceh.

“Sebelumnya Yayasan GAS mengelola empat asrama yang berlokasi di Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Malang. Sedangkan Yayasan Rahmania Fortuna mengelola satu asrama di Depok. Hari ini kita serahkan sepenuhnya aset asrama tersebut kepada Pemerintah Aceh untuk pengelolaan dan pemeliharaan yang lebih baik,” tuturnya.

Menurutnya, kondisi asrama-asrama yang dibangun sekitar tahun 2003 tersebut pada umumnya dalam keadaan baik dan didirikan dari hasil sumbangan masyarakat serta pengurus yang mayoritas merupakan para mantan direktur di PT. Arun dan Pertamina.

“Namun selama ini kita mempunyai pemasukan yang tetap yang minim untuk memastikan pemeliharaan dan pengelolaan asrama-asrama tersebut berjalan dengan maksimal. Setelah menerima surat himbauan Gubernur tentang pengamanan pengelolaan asrama mahasiswa Aceh beberapa waktu lalu, kami para pengurus memutuskan untuk menyerahkan lima aset Asrama Putri Pocut Baren kepada Pemerintah Aceh dengan harapan pemerintah dapat memastikan pengelolaan dan pemeliharaan berjalan maksimal dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat Aceh yang ingin menuntut ilmu di perantauan,” katanya.

Hasan turut menjelaskan bahwa asrama-asrama yang diserahkannya itu berada di lokasi yang sangat strategis dengan perguruan-perguruan ternama di Indonesia. “Seperti asrama kita di Depok sangat dekat dengan kampus Universitas Indonesia, sedangkan asrama kita di Yogyakarta sangat dekat dengan Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPN). Di Bandung, asrama kita berada di kawasan Jatinangor dimana kampus-kampus seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad) dan universitas-universitas lainnyal,” jelas.

Turut hadir pada acara penyerahterimaan aset asrama mahasiswa Aceh tersebut, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Aceh, Syahrul Badruddin, Kepala Dinas Kekayaan dan Pendapatan Aceh, Muhammad, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Darjo, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, Dahlia, Kepala Biro Humas Setda Aceh, Frans Dellian serta beberapa kepala SKPA terkait lainnya.

 

Check Also

Plt Gubernur Aceh Raih Penghargaan Padmamitra Awards

Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, raih Penghargaan Padmamitra Awards Aceh tahun …