Home / LINTAS ACEH / Gubernur Bertatap Muka dengan Fanisa

Gubernur Bertatap Muka dengan Fanisa

Banda Aceh, 12/24/2014 | Humas Aceh

[ Humas Aceh ] Banda Aceh – Usai melaksanakan Shalat Isya, Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah bersama Istri, Niazah A Hamid, bertatap muka langsung dengan Fanisa Riskia. Gadis korban tsunami yang sempat menjadi korban traficking (Perdagangan Manusia-red) di Malaysia itu, datang ke di Meuligoe Gubernur Aceh, didampingi oleh pihak Panti Asuhan tempatnya bernaung setelah tiba di Aceh, pada 19 Desember lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur berpesan kepada Fanisa agar gadis berusia 15 tahun itu selalu bersyukur karena akhirnya Fanisa dapat kembali ke Aceh dan melanjutkan kembali sekolahnya di Aceh, Selasa (23/12/2014).

“Ananda harus senantiasa bersyukur kepada Allah karena atas izin Sang Maha Kuasa, Fanisa akhirnya dapat terbebas dari cengkeraman pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan telah memperlakukan Fanisa secara semena-mena,” ujar gubernur.

Fanisa, gadis kelahiran 27 Juli 1999 ini dijemput oleh Kepala Dinas Sosial Aceh, Bukhari Aks MM dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Said Rasul, atas perintah Gubernur Aceh.

Penjemputan Fanisa dilakukan setelah Pemerintah Aceh mendapat kabar dari pihak Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Malaysia yang menyatakan dugaan telah terjadi praktik mempekerjakan anak di bawah umur yang merupakan korban tsunami.

“Gubernur langsung memerintahkan kami untuk menjemput Fanisa setelah mendapat kabar tentang keberadaannya dari KBRI di Malaysia. Akhirnya pada Jumat (19/12) lalu Fanisa tiba kembali di Aceh,” terang Bukhari.

Setelah 10 Tahun Tsunami, Akhirnya Fanisa Kembali ke Aceh

Fanisa, gadis yang awalnya memiliki nama Cut Lisa ini, saat tsunami terjadi masih berumur lima tahun. Daerah asal gadis ini adalah di Mon Geudong, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe.

Gadis yang saat ini ditampung di Panti Asuhan Aneuk Nanggroe itu sempat menceritakan secara singkat kisah hidupnya kepada awak media di depan Gubernur Aceh tentang perjalanannya pasca tsunami hingga akhirnya dipekerjakan di Malaysia.

Saat tsunami terjadi, Fanisa dibawa oleh Sabariah (orang yang mengaku teman Ibunda Fanisa-red) ke Masjid Raya Baiturrahman (MRB). Setelah seminggu berada di MRB, Fanisa akhirnya dibawa oleh Bayah (Panggilan akrab Sabariah-red) ke Medan.

Selama tinggal bersama Bayah Fanisa mengaku diperlakukan denganbaik dan disekolahkan hingga SMP. Saat menginjak kelas dua SMP, Bayah akhirnya meninggal dunia setelah berjuang sekian lama melawan penyakit kanker.

Sepeninggal Bayah, tepatnya 40 hari pasca meninggal Bayah, Fanisa diusir oleh adik Bayah, seluruh harta dan pemberian Bayah kepadanya diambil alih oleh adik Bayah.

Diusir dari rumah tempatnya selama ini menggantungkan hidup dan berteduh, Fanisa akhirnya mulai bekerja serabutan demi melanjutkan hidupnya. Mulai dari penjaga Warnet hingga doorsmeer pun dilakoni oleh gadis berkulit hitam manis ini.

Hingga akhirnya Fanisah bertemu dengan Ida. Saat bertemu dengan Fanisa, Ida mengaku teman baik Bayah. Ida pun menawarkan Fanisa pekerjaan sebagai pelayan restoran di Malaysia. Merasa hidup sebatang kara dan butuh pekerjaan untuk melanjutkan hidupnya, Fanisa akhirnya menerima tawaran Ida.

Namun, saat berada di Malaysia Fanisa tidak dipekerjakan di Restoran seperti yang dijanjikan Ida, Fanisa justru dijual ke salah satu agensi disana dan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga.

“Yang saya tahu, saat disana (di Malaysia-red) saya dijual seharga 6 ribu ringgit kepada salah satu agensi,” terang Fanisa terbata-bata, sembari menyeka buliran air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.

Selama dua menjadi pembantu rumah tangga di salah satu rumah di daerah Rawang, Malaysia, Fanisa mengaku diperlakukan secara wajar oleh pemilik rumah. Namun, beratnya beban pekerjaan yang memang tidak sesuai dengan usianya membuat Fanisa menyerah dan meminta izin kepada sang pemilik rumah untuk mengembalikannya kepada agensi.

Merasa telah mengeluarkan uang cukup banyak, sang pemilik rumah memperbolehkan Fanisa untuk pergi dengan syarat harus membayar uang sebesar 6 ribu ringgit kepada tuan rumah. Nisa, begitu biasa gadis ini disapa, akhirnya tetap berada dirumah tersebut, namun dia tetap terus saja meminta dikembalikan ke agensi.

Pemilik rumah akhirnya mengembalikan Fanisa ke agensi. Disinilah Fanisa mengaku sempat mendapatkan perlakuan kasar dari pihak agensi. “Mereka sempat memukul kepala saya sekali, mungkin karena kesal karena saya tidak mau bekerja. Sedangkan selama bekerja saya tidak pernah mendapatkan bayaran sepeser pun.”

Saat di agensi, Nisa selalu meminta untuk dipulangkan ke Indonesia. Namun pihak agensi tidak mengabulkan kecuali Nisa mampu membayar uang sebesar 2 ribu ringgit. Nisa akhirnya dikurung disalah satu ruangan di kantor agensi tersebut. Hal tersebut dikarenakan Fanisa selalu meminta untuk dipulangkan ke Indonesia.

Beruntung, pada suatu pagi Fanisa berhasil keluar dari ruang penyekapan dan meminta tolong kepada salah seorang bapak yang kebetulan sedang jogging dan melintas di depan kantor agensi tersebut.

“Bapak tersebut kemudian melaporkan keberadaan saya di agensi tersebut ke polis. Tak berapa lama kemudian datang polis ke kantor agensi kemudian menjemput dan membawa saya ke KBRI. Akhirnya saya kembali ke Aceh setelah dijemput oleh Pak Bukhari dan Pak Said,” terang Nisa sembari melemparkan senyum kearah Kadinsos dan Kepalka BPBA itu.

Tinggal di Panti Aneuk Nanggroe

Kadinsos Aceh menjelaskan, Saat ini Nisa tinggal di Panti Asuhan Aneuk Nanggroe dan sedang mengurus segala berkas-berkas untuk kelengkapannya melanjutkan sekolah di kelas 2 SMP yang sempat terputus.

“Awal januari tahun depan kita akan kembali menelusuri keberadaan keluarga Nisa. Tidak hanya itu kita juga akan ke sekolah Nisa di Medan, guna mengurus berkas-berkas untuk kepindahannya dan melanjutkan sekolah di Aceh,”terang Bukhari.

Tidak berhenti disitu, Pemerintah Aceh juga akan menelusuri jejak agensi yang mempekerjakan Fanisa di Malaysia dan mancari keberadaan Ida yang telah menjual Fanisa ke agensi tersebut.

“Semua akan kita telusuri. Kita juga akan melakukan langkah hukum terhadap agensi tersebut, karena bocah ini telah dipekerjakan dengan memalsukan dokumen-dokumen Fanisa.”

Saat tiba di Aceh, Nisa sempat menjelaskan bahwa ia adalah anak dari pasangan Zakaria dan Cut Uti Mariati. Nisa juga mengaku memiliki abang yang bernama Muhammad Hari dan seorang kakak yang biasa ia panggil Kak Nong.

Gubernur Serahkan Bantuan untuk Nisa

Pasca tiba di Aceh, Nisa telah ditangani oleh psikolog dan dokter khusus karena saat ini, Nisa masih mengalami trauma. Sikapnya akan otomatis berubah ketakutan jika bertemu dengan orang baru atau saat berada dikeramaian.

Untuk itu, Gubernur mewanti-wanti agar Nisa dapat ditangani dengan serius, sehingga kondisi psikologisnya dapat kembali seperti semula.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur juga menyerahkan sumbangan sebesar Rp 5 juta kepada Nisa, yang turut disaksikan oleh pendampingnya dari Panti Asuhan Aneuk Nanggroe. Panti Asuhan Aneuk nanggroe merupakan panti asuhan milik Pemerintah Aceh yang berada di kawasan Ketapang.

“Insya Allah, kita akan memperlakukan Nisa sama seperti anak-anak yang lain, sehingga traumanya segera dapat hilang. Tadi nisa juga menyatakan igin menjadi atlit. Untuk itu kita pasti akan menyalurkan minatnya tersebut,” ujar gubernur.

Gubernur juga menjelaskan, Pemerintah Aceh akan memberikan pendidikan kepada Nisa hingga ke jenjang perguruan tinggi.

“Jika Nisa berminat dan memiliki prestasi baik, maka kita akan terus membiayai pendidikannya hingga ke jenjang perguruan tinggi,” pungkas Gubernur.

Check Also

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh melaksanakan kegiatan rapat koordinasi teknis

Idi-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh melaksanakan kegiatan rapat koordinasi teknis pada hari Rabu (11/082022) di …