Home / Berita Terbaru / Gubernur Buka Konferensi International Perdamaian Aceh

Gubernur Buka Konferensi International Perdamaian Aceh

Banda Aceh  14 November 2015

Banda Aceh – Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah secara resmi membuka konferensi international dalam rangka memperingati 10 Tahun MoU Helsinki di Anjong Mon Mata, Jumat (13/11) malam. Acara pembukaan konferensi turut dihadiri oleh Ketua Aceh Monitoring Mission, Pieter Feith, Duta Besar Uni Eropa untuk Asean, Francisco Fontan Pardo, Duta Besar dari beberapa negara dan para tokoh penting Perdamaian Aceh

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah dalam sambutannya mengatakan, selama 10 tahun telah banyak perubahan yang sudah dicapai oleh pemerintah Aceh, meskipun ada beberapa hal yang masih harus  ditingkatkan lagi.

“Proses yang terjadi selama 10 tahun ini menghadirkan sikap optimis bahwa kita akan mampu membawa Aceh ke arah yang lebih baik lagi, yang kita butuhkan adalah kebersamaan dan kekompakan untuk bersama sama membangun dan merawat perdamaian ini” kata Gubernur Zaini

Menurut Zaini, masih banyak hal yg harus diselesaikan, di antaranya, regulasi turunan UUPA dan MoU Helsinki yang belum tuntas, pertumbuhan ekonomi yang masih harus dipacu, arus investasi yang harus terus ditingkatkan, komitmen menjaga dan merawat perdamaian.

“Untuk menghadapi tantangan itu kita perlu  kerja keras dan soliditas dalam menjaga perdamaian ini agar lebih sukses lagi. perdamaian ini tidak bisa dikatakan berhasil jika tidak ada perubahan bagi kehidupan masyarakat” tegas Zaini

Gubernur berharap, Konferensi international perdamaian tersebut dapat membawa perbaikan dalam segala bidang baik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat aceh dan untuk menjaga perdamaian yang sudah dicapai.

Sementara itu, Mantan Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Peiter Feith mengatakan, banyak hal yang dapat dipelajari dari Proses perdamaian Aceh, negara negara seperti Philipina, Ukraina dan negara lainya yang sedang dalam konflik dapat mengambil pelajaran dari perdamaian di Aceh. Menurutnya, hal yang paling penting bagi Aceh adalah menjaga toleransi, menjalakan pemerintah yang bebas korupsi dan menegakkan hukum.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN menyampaikan bahwa kunci yang paling utama bagi Aceh saat ini dan kedepan adalah merawat perdamaian. “Uni Eropa dan Kumunitas International akan terus memantau dan bekerjasama dengan pemerintah Aceh untuk memastikan perdamaian yang sudah diraih dapat terus dijaga”ujarnya

Check Also

Dukung Gerakan Zakat Indonesia, Gubernur Aceh Terima Anugerah BAZNAS Award 2022

Jakarta – Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah MT menerima anugerah BAZNAS Award 2022, dalam …