Home / Berita Terkini / Gubernur: Gotong Royong Adalah Budaya Indatu Kita

Gubernur: Gotong Royong Adalah Budaya Indatu Kita

Banda Aceh | 20/04/2015

Langsa – Gotong Royong merupakan kebiasaan yang telah membudaya di Aceh. Kebiasaan ini adalah sebuah kegiatan yangmenunjukkan kekompakan komunitasmasyarakat di suatu daerah.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, saat membuka secara resmi Hari Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-12 serta pembukaan Langsa Fair Tahun 2015. Kegiatan yang dihadiri oleh ribuan masyarakat itu dipusatkan di Komplek Islamic Center Kota Langsa.

Selain memperingati memperingati Hari Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat ke-12 dan membuka secara resmi Langsa Fair tahun 2015, pada kegiatan tersebut juga diperangati Hari Kesatuan Gerak PKK Aceh ke-43, pemberian penghargaan bagi pemenang Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna ke-6 se-Aceh, dan Peresmian Gedung Rawat Super VIP RSUD Kota Langsa, serta Peresmian Paket/Kegiatan APBA Tahun Anggaran 2014.

“Untuk semua kegiatan tersebut, pelaksanaannya tahun ini kita pusatkan di Kota Langsa. Karena itu saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada Pemerintah Kota Langsa yang telah berkenan menjadi tuan rumah untuk kegiatan ini,” ujar Gubernur.

Zaini berharap seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dapat berjalan lancar dan memberi manfaat demi keberlanjutan pembangunan di Aceh.

“Saya ingin memulai sambutan ini dengan menjelaskan makna peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat yang telah memasuki tahun ke-12 kita selenggarakan di Aceh. Kegiatan ini tidak lain untuk mengingatkan kita tentang pentingnya kebersamaan dan solidaritas sesama anak bangsa yang merupakan budaya turun temurun sejak indatu kita dahulu kala.”

Bagi masyarakat Aceh, gotong royong tentu bukan sekedar menjaga sebuah tradisi, karena kebiasaan ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang mewajibkan seluruh umatnya untuk peduli dengan lingkungan dan saling membantu antar sesama.

Gubernur juga mengajak ulama, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh adat beserta seluruh elemen masyarakat untuk mendorong dan menghidupkan kembali jiwa kegotong-royongan untuk kembali memperkokoh kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tingkatkan Pembangunan Gampong

Sejalan dengan momentum peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong ke-12 ini, Gubernur kembali menegaskan tentang pentingnya meningkatkan pembangunan di wilayah gampong.

Menurut Pria yang akrab disapa Doto itu, peningkatan pembangunan Gampong dapat diwujudkan dengan mengalokasikan anggaran pembangunan gampong, pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Dengan demikian, langkah kita untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat gampong dapat segera terwujud.”

Sebagaimana diketahui, terhitung mulai tahun ini implementasi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa akan segera dilaksanakan.

Untuk itu, Gubernur berharap penggunaan anggaran pembangunan gampong (desa) yang dialokasikan dari APBN dapat dimanfaatkan secara efektif bagi pembangunan gampong dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Selain alokasi dana dari APBN, Pemerintah Aceh juga masih tetap mengalokasikan anggaran untuk Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong, bagi 6.474 gampong yang ada di Aceh.

Tahun ini saja Pemerintah Aceh telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 30 juta per gampong. Dana tersebut ditujukan untuk program-program penguatan gampong, termasuk di bidang kesehatan dan kelancaran kegiatan Posyandu.

“Untuk memberi arah pada program ini, saya telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 60 Tahun 2012 yang bertujuan untuk meningkatkan layanan sosial dasar Posyandu di seluruh Aceh, sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat akan lebih baik sesuai dengan harapan seluruh lapisan masyarakat,” jelas Zaini.

Gubernur menjelaskan, peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong tahun ini fokus pada tiga isu utama, yaitu penguatan gampong, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Dalam upaya mendorong kesejahteraan keluarga, Pemerintah Aceh juga telah mengalokasikan anggaran untuk peningkatan kesehatan dan gizi anak melalui penyediaan makanan tambahan bagi anak sekolah dan biaya manajemen bagi 75 sekolah setingkat TK dengan jumlah sasaran 3.571 orang murid.

Dalam Dua Tahun, Kasus Gizi Buruk Turun Hingga 46 Persen

Dalam sambutannya, Gubernur juga menjelaskan tentang isu gizi buruk yang sempat diberitakan oleh media massa beberapa hari lalu. Dalam beritatersebut dijelaskan bahwa jumlah penderita gizi buruk di Aceh tertinggi di Sumatera.

“Dapat kami jelaskan bahwa jumlah kasusnya semakin menurun. Pada tahun 2012 jumlah penderita gizi buruk sebanyak 799 kasus, dan pada tahun 2014 tinggal 366 kasus. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini saja, kasus gizi buruk berhasil ditekan hingga mencapai 46 persen.

Hal ini menunjukkan, bahwa upaya Pemerintah Aceh dalam menurunkan kasus Gizi buruk sudah menampakkan hasil. Namun demikian, upaya ini perlu mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten/Kota, mengingat untuk pembangunan kesehatan, Pemerintah Aceh telah menanggung biaya kesehatan perorangan melalui Program JKRA.

Sedangkan biaya kesehatan masyarakat sudah semestinya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal ini sesuai dengan kewenangan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Persoalan gizi buruk pada hakikatnya adalah muara dari berbagai persoalan sebelumnya, salah satunya adalah sektor pertanian yang belum digarap secara optimal, yang pada gilirannya juga berdampak terhadap ketersediaan pangan dan asupan gizi masyarakat.

Doto: Segera Manfaatkan Lahan Tidur

Dalam kesempatan tersebut Gubernur juga menyoroti tentang lahan produktif yang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Gubernur berharap para bupati/wali kota, dapat menaruh perhatian yang serius dan sungguh-sungguh dalam upaya meningkatkan pembangunan di bidang pertanian dan ketahanan pangan.

“Hasil pantauan kami, masih banyak lahan tidur (terlantar) yang dibiarkan begitu saja.padahal jika dimanfaatkan secara optimal tentu saja akan berpengaruh besar bagi peningkatan hasil pertanian dan tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan.”

Dalam raker camat se-Aceh yang baru saja berlangsung di Banda Aceh, Gubernur juga telah meminta kepada seluruh jajaran Pemerintah di tingkat kecamatan untuk mendorong masyarakat agar meningkatkan produksi pertanian. Jika sektor pertanian digarap dengan maksimal, maka persoalan-persoalan yang masih melanda akan dapat terdegradasi.

Oleh karena itu, Gubernur berharap para bupati/wali kota agar menginstruksikan kepada para Kepala SKPK terkait, para camat, para imum mukim, dan para keuchik untuk senantiasa menggerakkan masyarakat dalam menggarap secara maksimal sektor pertanian ini, sesuai dengan kondisi dan potensi wilayahnya masing-masing.

“Sebagaimana saya sebutkan di awal tadi, pada hari ini juga akan diberikan penghargaan kepada pemenang Lomba inovasi Teknologi Tepat Guna se-Aceh ke-6 yang telah berlangsung dari tanggal 25 Maret hingga 19 April kemarin.”

Gubernur juga mengingatkan, bahwa Aceh akan menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ke-17 tahun 2015.

“Untuk itu saya meminta semua lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan itu agar mempersiapkan diri sebaik mungkin agar Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Nasional nanti menjadi penyelenggaraan terbaik yang pernah berlangsung di Indonesia. Saya juga berharap nantinya akan ada inovasi dari Aceh yang tampil sebagai pemenang dalam lomba itu.”

Langsa Fair, Sarana bagi Masyarakat Pahami Konsep Pembangunan

Dalam kesempatan tersebut Gubernur juga akan membuka secara resmi Langsa Fair Tahun 2015. Gubernur menegaskan, bahwa kegiatan ini merupakan ajang menjalin komunikasi bagi masyarakat dan insan pembangunan di Kota Langsa.

“Melalui kegiatan ini, saya berharap masyarakat Langsa dan sekitarnya bisa memahami konsep dan rencana pembangunan daerah ke depan.”

Dengan demikian, lanjut Gubernur, Langsa Fair ini dapat lebih mendekatkan masyarakat dengan Pemerintah Daerah agar partisipasi, kepedulian antar sesama, dan semangat gotong royong membangun daerah bisa lebih ditingkatkan.

Gubernur Resmikan 8 Paket Kegiatan APBA di Wilayah Timur

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga meresmikan secara simbolis beberapa Paket/Kegiatan APBA tahun anggaran 2015 di kawasan pantai timur Aceh, yaitu:

  1. Penyiapan Prasarana dan Sarana Permukiman Transmigrasi Alue Dua Kabupaten Aceh Utara dengan Pagu Anggaran sebesar Rp. 1,7 M.
  2. Penyiapan Prasarana dan Sarana Permukiman Transmigrasi Alue Punti Aceh Tamiang dengan Pagu Anggaran sebesar Rp. 5,4 M.
  3. Pembangunan Lanjutan Gedung Workshop BLK Kabupaten Aceh Utara dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 1,3 M.
  4. Pembangunan Taman dan Kuliner Stadion Mon Gedong Lhokseumawe dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 2,3 M.
  5. Penyerahan satu unit boat untuk transportasi masyarakat Telaga Pusong Langsa dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 450 Juta.
  6. Pembangunan Jembatan Matang Guru, Madat (Dana Otsus Aceh), dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 12 M.
  7. Pembangunan Jembatan Krueng Tuan Aceh Utara dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 5 M.
  8. Pembangunan Gedung Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Samtalira Arun dengan Pagu Anggaran sebesar Rp 2,5 M.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dirjen Pemerintahan Masyarakat Desa, Kementerian Dalam Negeri RI, Unsur Forkopimda Aceh, Pimpinan dan Para Anggota DPRA, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Langsa, Para Bupati dan Wali Kota se-Aceh, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Para Kepala SKPA, Para Unsur Forkopimda Kota Langsa, Para Pimpinan dan Anggota DPRK Kota Langsa, Para Ketua DPR Kabupaten/Kota se-Aceh, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota, Para Ulama, Camat, Imum Mukim, Geuchik dan tokoh masyarakat

Check Also

( Video ) Dyah : Ada 700 lebih objek wisata aceh