Home / Berita Terkini / Gubernur Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda Sarjana Universitas Samudera

Gubernur Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda Sarjana Universitas Samudera

Banda Aceh | 18-2-2015 | Humas Aceh

‘Pendidikan Senjata terbaik Tanggulangi Kemiskinan’

LangsaTepat pukul 11:15 WIB, Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah beserta rombongan yang terdiri dari Ketua DPRA, Wali Kota Langsa, Bupati Aceh Timur, Bupati Aceh Tamiang, Ketua Badan Legislasi (Banleg) DPRA, Kepala Biro Humas Setda Aceh, Kepala Biro Isra Setda Aceh dan Kepala Biro Umum Setda Aceh, tiba di Universitas Samudera Langsa, (Rabu, 18/2/2015).

Kehadiran Gubernur disambut langsung oleh Rektor Unsam, Bakhtiar Akob beserta civitas akademika Unsam. Kehadiran orang nomor satu di Aceh itu ke Universitas kebanggaan masyarakat Langsa itu adalah untuk menghadiri Rapat Senat Terbuka Unsam Langsa dalam rangka wisuda Sarjana di universitas tersebut.

Dalam kesempatan tersebut rektor membacakan 11 orang Wisudawan/i berprestasi. Selanjutnya, rektor dan Gubernur menyerahkan plakat dan piagam penghargaan kepada: Khairun Nisa (FH). Tari Ardiani (FE). T Ilfansyah (FE). Riko Aditya (FP). Harun (FP). Sukanto (FKIP). Mauliadi (FKIP). Mardiana (FKIP). Wahyu Mahedaswari (FT). Khairil Ismairi (FT). Derby Ermawan (FT).

Dalam sambutan singkatnya, rektor Unsam menjelaskan, hari ini, sebanyak 512 wisudawan dan wisudawati yang diwisuda. Secara keseluruhan, setidaknya 8.528 lulusan telah diwisuda di Unsam,” terang Bakhtiar Akob.

Bakhtiar juga menjelaskan, saat ini tenaga pengajar Unsdam terdiri atas 81 orang dosen tetap berstatus PNS dan 87 dosen tetap non PNS. Selain itu, Unsam juga memiliki dosen tidak tetap sebanyak 153 orang.

“Keseluruhan Dosen Unsam berjumlah 303 dosen. Selain itu, jumlah pegawai Unsam berjumlah 51 orang PNS dan pegawai tetap non PNS sebanyak 143 org. Dan, setelah berstatus PTN (Perguruan Tinggi Negeri-Red) program studi di Unsam juga telah bertambah, dari sebelumnya hanya sebelas Prodi, kini telah bertambah menjadi 25 Prodi.

Wali Kota: Pendidikan Caracter Building juga Penting.

Sementara itu, Wali Kota Langsa, Usman Abdullah yang juga merupakan alumni Unsam bergelar Sarjana ekonomi, dalam sambutannya berharap agar Unsam tidak hanya melahirkan sarjana-sarjana yang baik tapi juga mampu menjadi universitas yang mampu memberikan pendidikan caracter building, sehingga karakter negara seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri negara dapat terlaksana.

“Kualitas dan karakter para lulusan Unsam juga tergantung dari kualitas para civitas akademiknya. Saya harap di masa yang akan datang lulusan Unsam dapat bersaing di tingkat global. Oleh karena itu seiring waktu kami berharap Unsam dapat terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari civitas akademinya.”

Gubernur: Pendidikan Senjata terbaik Tanggulangi Kemiskinan

Sementara itu, Doto Zaini di awal Orasi Ilmiahnya mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan keluarga. Gubernur berharap wisuda kali ini akan menjadi sebuah tonggak untuk pencapaian kesuksesan di tingkat yang jauh lebih tinggi.

“Hadirin yang berbahagia, Saya yakin kita semua tentu sepakat, bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk membentuk manusia berkualitas. Karena itu, penguatan pendidikan perlu dilakukan sebagai langkah untuk menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, kompetitif, punya daya juang yang tinggi serta kreatif. Pendidikan juga merupakan cara terbaik untuk menekan angka kemiskinan dalam jangka panjang. Dengan SDM yang tangguh, kita akan mampu memecahkan berbagai masalah, sekaligus menjadikan Aceh lebih makmur dan sejahtera,” ujar Gubernur.

Dalam sambutan dan orasi ilmiahnya, secara khusus Gubernur menggaris bawahi pada isu kemiskinan dan kesejahteraan. Menurut Gubernur permasalahan kemiskinan adalah masalah besar bagi Aceh saat ini.

Secara perlahan memang angka kemiskinan di Aceh memang terus menurun setiap tahunnya. Sebagai perbandingan, jika tiga tahun lalu angka kemiskinan di Aceh menyentuh angka 20,8 persen, maka sampai akhir tahun 2014 lalu, angka kemiskinan sudah berada di angka 18 persen.

“Dibanding angka nasional, kita akui rasio kemiskinan Aceh tergolong cukup tinggi. Bahkan Aceh menduduki rangking nomor delapan sebagai wilayah termiskin di Indonesia. Situasi ini tentu membuat kita harus berpikir dan bekerja keras untuk membawa Aceh keluar dari jurang kemiskinan itu.”

Menurut Gubernur berbicara mengenai kemiskinan dan apa yang terjadi di Aceh merupakan masalah sosial multi dimensional yang dipicu tiga faktor, Pertama, Kualitas SDM yang kurang memadai karena relatif rendahnya pendidikan, khususnya masyarakat di perdesaan. Kondisi ini juga menyebabkan rendahnya etos kerja dan semangat berkompetisi. Kedua, hambatan akses ekonomi, seperti kurangnya diversifikasi keahlian, ketiadaan modal, ketidaklancaran arus barang, dan kewirausahaan yang tidak berkembang.

Dan, Ketiga, Dipicu oleh keterbatasan infrastruktur, seperti fasilitas air bersih, jalan perdesaan dan irigasi, jaringan listrik, maupun pemukiman yang layak.

“Dari ketiga analisa ini, maka dapat kita pahami kalau kantong kemiskinan di Aceh lebih banyak terdapat di wilayah pedesaan. Kondisi ini terjadi karena masyarakat desa relatif masih kesulitan mendapatkan akses untuk pendidikan yang berkualitas serta akses ke sumber ekonomi yang lebih stabil,” terang Gubernur.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di pedesaan Aceh mencapai 21,4 persen, sedangkan di pekotaan sekitar 15 persen. Di sisi lain, karakteristik kemiskinan itu juga tidak merata antar wilayah. Itu sebabnya dibutuhkan langkah komprehensif untuk menanganinya.

Oleh sebab itu, lanjut Gubernur, saat ini Pemerintah Aceh terus bertekad untuk melakukan langkah-langkah strategis pemberantasan kemiskinan yang dimulai dari desa. Untuk itu, anggaran pembangunan Aceh ke depan akan lebih banyak diarahkan untuk desa sehingga hambatan pendidikan dan ekonomi masyarakat desa secara perlahan dapat diatasi.

“Secara konseptual, target pembangunan di Aceh bukanlah untuk mengejar target pertumbuhan yang menitikberatkan pada angka-angka pembangunan semata, tapi lebih bersifat integratif dan komprehensif demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.”

Untuk membangun kesejahteraan ini, Pemerintah Aceh telah menjalankan sejumlah program pemberdayaan dan pembangunan infrastruktur di semua wilayah. Sektor UKM menjadi salah satu perhatian, sebab usaha ini sangat banyak di Aceh, mencapai 280.000 unit dengan serapan tenaga kerja hingga 85 persen.

“Bersamaan dengan itu, revitalisasi koperasi juga kita lakukan. Sampai tahun 2014, terdapat sekitar 7.720 unit koperasi di Aceh, tapi dari jumlah itu hanya 40 persen yang aktif. Pada tahun ini, Pemerintah Aceh berupaya untuk mengaktifkan kembali koperasi-koperasi tersebut dan terus mendorong tumbuhnya koperasi baru,” terang Zaini.

Gubernur berharap, kebangkitan UKM dan koperasi akan mampu menggairahkan sektor usaha lainnya. Untuk penanggulangan kemiskinan itu, setidaknya ada sembilan poin strategis yang dilakukan Pemerintah Aceh, yaitu:

  1. Pembangunan yang memadukan pendekatan research, knowledge dan culture
  2. Pembangunan berwawasan lingkungan
  3. Menjalankan program berdasarkan konsep pemerataan, growth with equit
  4. Memperkuat ekonomi lokal melalui pengembangan basisbasis ekonomi berkelanjutan
  5. Menjalankan konsep pembangunan yang berdimensi kewilayahan
  6. Sumber-sumber investasi dan pendanaan dalam negeri harus diperkuat
  7. Kemandirian dan ketahanan pada bidang-bidang dan sektor ekonomi tertentu harus kita lakukan yaitu pangan, energi dan industri pertahanan
  8. Keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif dijalankan secara bersamaan
  9. Menerapkan pola-pola efisiensi melalui peran ekonomi yang tepat untuk keadilan.

“Sembilan poin ini bukanlah sesuatu yang di awang-awang atau dalam istilah orang Aceh disebut ‘Cet langet’ (mengada-ada-red). Sebagian dari program itu telah berjalan, sebagian lain akan dimulai. Kesemuanya ini tentu harus pula diperkuat oleh SDM-SDM berkualitas,” tegas Gubernur.

SDM berkualitas, lanjut Zaini, hanya dihasilkan melalui pendidikan yang berkualitas. Dengan pendidikan berkualitas, maka kita pun siap bersaing dalam era global yang sudah ada di depan mata. Ingat, bahwa era perdagangan bebas ASEAN telah dimulai sejak Januari tahun 2015 ini.

Gubernur mengingatkan, sebagai salah satu wilayah yang berada di lokasi strategis di kawasan ASEAN, Aceh harus bisa mengambil peran penting dalam kebijakan ini. “Namun, peran ini hanya bisa kita rebut jika kita melakukan pembenahan di dalam. Kita tidak bisa menuntut ASEAN Economic Community memberikan yang terbaik kepada Aceh tanpa ada upaya untuk bangkit dan menselaraskan diri dengan dinamika global yang berkembang.”

Berbicara tentang pendidikan, masyarakat Aceh pantas bersyukur mengingat banyaknya keistimewaan yang didapat Aceh dari Pemerintah Pusat. Hal ini terbukti karena hingga saat ini Aceh telah memiliki 11 perguruan tinggi negeri.

“Salah satunya adalah Universitas Samudera di Langsa ini. Keberadaan PTN ini jangan disia-siakan. Kita harus mampu mendorong agar Unsam dan PTN-PTN lain yang ada di Aceh melahirkan SDM-SDM berkualitas.”

Dipenghujung Orasinya Gubernur mengingatkan agar pendidikan di Aceh jangan seperti ‘katak dalam tempurung’, yang merasa bangga dengan dirinya sendiri tanpa pernah melihat ketatnya kompetisi di dunia luar. Untuk itu gubernur menghimbau agar PTN di Aceh terus berbenah dan harus membuka diri serta membangun kerjasama dengan lembaga lainnya, sehingga mampu melahirkan tenaga fresh graduate yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Dengan SDM berkualitas, secara bertahap kita berharap Aceh bisa keluar dari jurang kemiskinan. Kepada para alumni Unsam yang diwisuda hari ini, saya ucapkan selamat berkarya. Jadilah sarjana yang kreatif dan inovatif sehingga Saudara-Saudari menjadi aset yang bisa diandalkan masyarakat,” pungkas Gubernur.

Check Also

Nova: Kehadiran KIA Harus Jamin Keterbukaan Informasi Publik

Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengharapkan kehadiran Komisi Informasi Aceh (KIA) …