Home / LINTAS ACEH / Koalisi Masyarakat Sipil Diskusi dengan Gubernur Zaini

Koalisi Masyarakat Sipil Diskusi dengan Gubernur Zaini

Banda Aceh | 09/19/2014

Koalisi masyarakat sipil yang berasal dari kalangan LSM, akademisi, mahasiswa dan Jokowi-JK Center, malam tadi bersilaturrahmi dan berdiskusi dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, di Pendopo Gubernur Aceh, Kamis (18/9/2014).Para aktivis tersebut juga berasal dari beberapa LSM yang konsen di bidang lingkungan hidup, hak asasi manusia (HAM) dan sosial politik.

Pertemuan berlangsung hingga dua jam lebih. Dihadiri antaralain akademisi UIN Ar-Raniry Fuad Mardhatillah, akademisi Unimal Lhokseumawe Teuku Kemal Pasya, Presiden Mahasiswa UNAYA Indah Pinta Sari, Teuku Netta Firdaus dan Helmy N Hakim dari Jokowi-JK Center, Munzir Al Munir dari Garda Nasdem, Darmawan dari Serikat Buruh, Rinaldi dan Armiati dari LSM Kompak, Jamaluddin dari LSM SMAPA, Muda Jauhari dari Barisan Relawan Rovolusi Mental, Sejumlah perwakilan Pemuda Aceh Raya, relawan Jokowi-KJ dan sejumlah anggota LSM lainnya.

Mereka mengaku prihatin atas berbagai tudingan negatif yang digencarkan oknum tertentu yang dapat menggangu kestabilan roda Pemerintahan Aceh, saat ini. Tindakan itu, dinilai sengaja dihembuskan untuk memperkeruh suasana.

“Perkumpulan ini adalah inisiatif spontanitas setelah melihat situasi yang terjadi akhir-akhir ini. Kami berharap Pemerintahan Zikir tetap solid melanjutkan berbagai pembangunan di Aceh.  Kita sehati. Jadi, tujuan kami ke mari selain bersilaturrahmi dengan pak Gubernur Aceh juga atas rasa simpatik dan dukungan penuh terhadap pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf,” ujar ketua Teuku Netta Firdaus, dari Jokowi – JK Center, Aceh.

Netta Firdaus juga berharap adanya peran masyarakat dan pemuda yang proaktif terhadap Pemerintah Aceh saat ini. Hal itu akan memudahkan Pemerintah Aceh untuk menjalankan roda pemerintah terhadap pembangunan di berbagai sector. “dan kita siap dalam bentuk apapun untuk mengawal Pemerintahan Zikir sampai akhir kepemimpinannnya,” imbuhnya.

Teuku Kemal Pasya, menegaskan bahwa perkumpulan tersebut bukanlah transaksional ekonomi.  Ia juga menilai perlunya rekonsiliasi budaya dan konsolidasi politik di Aceh dalam menata kembali birokrasi dan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf.  “Ini penting. Harus ada semangat rekonsiliasi politik yang mampu membawa perubahan Aceh ke arah lebih baik sebelumnya, karena ini juga merupakan bentuk komitmen kami untuk mengawal jalannya pemerintahan Aceh sekarang,” ujar Teuku Kemal Pasya.

Semangat rekonsiliasi politik dan budaya, menurutnya, mampu menjaga dan merangkul seluruh kekuatan politik tanpa didasari atas ‘warna’ dan koalisi ideologi. “perlu melakukan proses konsolidasi ini sebab berdasarkan catatan sejarah selalu mengajarkan bahwa pemerintah manapun tidak bisa memerintah sendirian. Kita perlu merangkul seluruh kekuatan politik agar nantinya tidak adanya perbedaan celah dan kepentingan dalam membantu pelaksanaan roda pemerintahan Zikir,” kata T Kemal Fasya.

Ketika melihat adanya segelintir kelompok yang meminta pengunduran diri secara sepihak, kata T Kemal, ia melihat adanya kepentingan-kepentingan politik tertentu yang sepenuhnya bukan dari aspirasi publik, tapi secara pribadi.

“Penyakit-penyakit ini harus dihentikan segera. Apa yang dilakukan itu jauh dari semangat mempertahankan perdamaian. seharusnya bukan menuntut mundur secara sepihak, tapi bagaimana mencoba mendorong perbaikan kinerja pemerintah menuju arah yang lebih baik lagi dari sebelumnya,” ujarnya lagi.

“Jadi aksi-aksi oleh segelintir oknum itu hanya akan menimbulkan efek negatif terhadap stabilitas politik yang membawa petaka buruk terhadap birokrasi pemerintahan di Aceh. Namun terhadap kritik yang rasional, kami berharap pak Gubernur bisa meresponnya dengan baik,” imbuhnya.

Sementara Fuad Mardhatillah berharap Gubernur Zaini dapat membuka ruang partisipasi semua elemen dalam mengisi perdamaian dan pembangunan Aceh. “Partisipasi ini dapat meminimalisir friksi atau kecurigaan-kecurigaan. Baik mulai dari proses perencanaan dan seterusnya, sehingga semua kebijakan Pemerintah sinergis. Ini baiknya di bina ulang. Dan saya yakin tata kelola yang partisipatif akan mendewasakan politik di Aceh,” harap alumnus McGill University, Canada itu.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyambut positif pertemuan hangat itu. “ Pendopo ini terbuka lebar untuk kita berdiskusi. kita akan sharring terus berbagai hal yang menyangkut pembangunan Aceh. Kita akan rancang, pertemuan semacam ini secara berskala dengan semua komponen yang ada di Aceh,” kata Doto Zaini.

Dihadapan Koalisi masyarakat sipil tersebut, Gubernur juga menjelaskan tentang program-program yang telah dijalankan, baik di bidang infrastruktur, sektor pertanian, perkebunan, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya, termasuk juga menceritakan berbagai kendala dilapangan.

“11 ruas jalan tembus lintas kabupaten akan kita bangun dan kita tingkatkan secara bertahap mulai tahun 2013 hingga 2017 mendatang. Anggarannya bersumber dari APBD Aceh dan APBN. Pembangunan ini merupakan salah satu upaya pelaksanaan program percepatan pembangunan Aceh,”jelas Zaini.

Gubernur Zaini merincikan, ruas jalan yang akan dibangun tersebut adalah Jantho-Aceh Jaya, Peureulak-Lokop-Gayo Lues , kemudian pembangunan jalan tembus Aceh Timur-Pinding-Blangkejeren, juga jalan dari Simpang Krung Geukeuh ke Bener Meriah.

Ruas lainnya, sebut Zaini Abdullah adalah Babah Rot-Perbatasan Gayo Lues, Simpang Teritit-Pondok Baru-Samar Kilang-Aceh Timur, kemudian pembangunan jalanTrumon-Bulohseuma-Kuala Baru sepanjang 24 kilometer dan ruas jalan lainya di kawasan Aceh  Tenggara.

“Ketimpangan ekonomi harus kita benahi,” tandas Gubernur. Zaini Abdullah juga menegaskan tekatnya untuk menuntaskan turunan UUPA yang saat ini masih terkendala. “Bersama Wagub Muzakir Manaf dan semua komponen rakyat Aceh, kita akan berjuang terus untuk menuntaskan perkara tersebut. kita juga akan jalin komunikasi intens dengan Jokowi dan JK,” pungkasnya.

Terkait isu ‘gesekan’ dengan Wagub terkait proses politik nasional di Aceh beberapa waktu silam, Gubernur mengatakan saat ini sudah kembali harmonis. “sekarang kita konsen untuk terus bersinergi membangun Aceh yang gemilang,” tuturnya.

“Serbagai saran, pikiran jernih dan masukan ini sangat berguna bagi perbaikan kinerja kami di masa mendatang,” tutup Gubernur Zaini, yang didampingi Sekretaris Kesbangpol dan Linmas Aceh, T Nasruddin, Staf Ahli Gubernur Ridwan Hasan, Samidan Angkasa Wijaya dan Tim Asistensi Gubernur, Tgk .Adli Abdullah. []

Check Also

DIPA Aceh Tahun 2020 Rp 37,1 Triliun

Jakarta — Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah MT menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran …