Monday , June 26 2017
Home / Berita Terkini / Presiden Jokowi Buka Penas KTNA-XV
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud, memukul "tambo" saat membuka Pekan Nasional Petani Nelayan ke XV di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Sabtu (06/05/2017).

Presiden Jokowi Buka Penas KTNA-XV

Humas Aceh | 7 Mei 2017

Banda Aceh – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara resmi membuka acara Pekan Nasional Petani Nelayan ke XV di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya, Sabtu (06/05/2017). Pembukaan kegiatan tersebut ditandai dengan pumukulan tambo oleh Jokowi yang didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud.

Presiden Jokow Widodo bersama Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah, memasuki arena pembukaan Penas KTNA ke 15, di stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, 6/5/2017.

Dalam sambutannya, Jokowi mengaku senang dan bahagia bisa datang ke acara Penas KTNA di Aceh.

“Saya sudah menunggu-nunggu untuk datang ke acara ini, supaya bisa bertemu dengan bapak ibu sekalian para petani dan nelayan,” kata Jokowi disambut tepuk tangan para peserta.

Kepada seluruh masyarakat, Jokowi tak lupa untuk mengajak mencintai para petani dan nelayan. “Kalau petani tidak bekerja kita mau makan apa? Kalau nelayan tidak bekerja keras kita mau makan ikan apa? Makanya kita semua harus sayang kepada petani nelayan,” ujar Jokowi.

Jokowi menambahkan, untuk memajukan petani, ia menargetkan untuk tidak ada lagi impor jagung pada tahun ini. Dua talun lalu, impor jagung berkisar sekitar 3,6juta ton per tahun sementara sekarang tinggal 900 ribu ton saja. Tutup semester dua tahun 2017, ditargetkan kran impor dapat ditutup sepenuhnya, karena kebutuhan jagung sudah mampu dipenuhi oleh petani dari Indonesia.

Selain itu, Jokowi juga sudah memerintahkan Menteri Pertanahan untuk membangun embung-embung di pusat pertanian di seluruh Indonesia. “Target kita akan dibangun 30 ribu embung untuk menunjang pertanian di Indonesia.”

Selain itu, Jokowi meminta para petani untuk tidak terpaku pada pengembangan  satu komoditi saja. “Lihat juga komuditas yang harganya tinggi. Pemerintah daerah kembangkan pertanian unggulan di masing-masing daerah,” ujar Jokowi.

Dalam pembukaan acara yang diikuti oleh sekitar 38 ribu peserta dari seluruh Indonesia dan luar negeri tersebut, Jokowi langsung berinteraksi dengan petani jagung dan kakao. Kedua komuditi itu, merupakan produk pertanian unggulan selain padi yang ditarget hasilnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan nasional di tahun 2045.

Saat ini, Indonesia sudah berhasil mencapai swasembada beras. Global Food Security Index pada Juni 2016, melansir Indonesia menjadi negara yang meraih peningkatan ketahanan pangan terbesar. Dalam survey itu disebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat 71 dari 133 negara untuk keseluruhan pangan. Sementara untuk ketersediaan pangan, Indonesia ada di peringkat 66. Keberhasilan tersebut merupakan capaian setelah 32 tahun Indonesia tak mencapai target itu.

Foof and Agriculture Organization, organisasi pangan dunia yang berkedudukan di bawah PBB, menghargai usaha Indonesia tersebut.

“FAO menghargai keberhasilan Indonesia dalam swasembeda beras pada 2016,” ujar Kundavi Kadiresan, FAO Representative for Asia and The Pacific, dalam keterangan yang dimuat dalam buletin Kementerian Pertahanan Indonesia.

“Capaian ini merupakan hasil dari investasi pemerintah khususnya Kementerian Pertanian yang sebagian besarnya digunakan untuk membangun infrastruktur,” kata  Kundavi.

Untuk mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, Kementerian Pertanian menfokuskan peningkatan kapasitas hasil pertanian. Di antara yang dilakukan adalah hilirisasi, membangun dan merevitalisasi pabrik gula serta mengembangkan kawasan holtikultura dan rumah pangan lestari.

Selain itu, Kementan juga mengembangkan sapi indukan wajib bunting, pengembangan pangan organik dunia, lumbung pangan perbatasan dan embung 4 juta hektare.

Untuk mencapai target menjadikan lumbung pangan dunia, Indonesia mulai memacu peningkatan produksi hasil pertanian mulai tahun lalu.

Di tahun 2016, Indonesia mengembangkan usaha pertanian di bidang pertanian, cabai dan bawang. Di tahun 2017 yang dikembangkan adalah jagung, dan gula konsumsi di tahun 2019. Sementara pada 2020, ditargetkan peningkatan produksi kedelai dan gula industri di tahun 2025.

Pada 2026 produksi daging sapi serta bawang di tahun 2033, sehingga menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tercapai pada tahun 2045.

Sementara itu, Ketua KTNA Pusat, Winarno, menyebutkan ajang Penas harus dimanfaatkan para petani dan nelayan untuk saling berbagi pengalaman sehingga aktifitas perkenomian dalam dua hal tersebut bisa tumbuh dan bergairah.

“KTNA harus bisa meningkatkan kegairahan petani dan kelautan yang berdaya saing melalui kerjasama yang saling menguntungkan,” ujar Winarno.

Selain itu, ajang KTNA juga harus dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan minat anak muda dalam membangun usaha di bidang pertanian dan kelautan.

Gubernur Persentasi Keberhasilan Pertanian Aceh

Sementara itu, Gubernur Aceh, dr.  H. Zaini Abdullah mempersentasikan keberhasilan sektor pertanian Aceh di hadapan Presiden Joko Widodo. Gubernur menjelaskan, kedua sektor ini sektor terbesar serapan tenaga kerja Aceh yang juga merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Aceh.

Dengan kontribusi itu, maka kebijakan pembangunan Aceh di sektor pertanian dan perikanan menjadi program prioritas.

“Alhamdulillah, berkat dukungan Bapak Presiden dan seluruh pihak terkait, dalam lima tahun terakhir ini usaha tani dan nelayan Aceh terus menunjukkan peningkatan,” ujar Gubernur.

Gubernur melanjutkan, mengacu pada data BPS Aceh, nilai tukar petani (NTP) Aceh terus mengalami kenaikan, sampai April 2017 ini, NTP Aceh sudah mencapai 95,05.

Sementara Produksi Padi Aceh berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di tahun 2016, mencapai 2,3 juta ton gabah kering. Sedangkan untuk komoditi Jagung, mencapai 316 ribu ton.

Kenaikan produksi juga terjadi pada produksi tanaman keras seperti kelapa sawit, kopi dan karet. Sementara dari sektor perikanan, produksi ikan tangkap dan ikan budidaya terus mengalami peningkatan cukup baik.

“Dengan kenaikan produksi itu, kami semakin bersemangat untuk mengembangkan sektor pertanian dan perikanan Aceh guna menjadikan daerah ini sebagai lumbung pangan nasional,” ujarnya.

Dalam sambutannya Gubernur Zaini juga menjelaskan pencapaian yang diraih petani dan nelayan Aceh dalam upaya penggemukan sapi Aceh yang beratnya bisa mencapai 600 kg. Sapi tersebut oleh Pemerintah Aceh kemudian dipamerkan di arena Penas dan ikut ditinjau langsung oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Selain itu, Gubernur Zaini juga memaparkan keberhasilan Aceh dalam pengembangan perkebunan kopi yang menjadi penghasil utama kopi Arabica di Indonesia.

“Nanti Saudara-saudara dapat melihat sendiri bagaimana perkebunan kopi arabica dikembangkan di Gampong keduanya Bapak Presiden di Bener Meriah dan Aceh Tengah,” ujar Gubernur Zaini.

Di sektor perikanan, Gubernur Zaini juga menjelaskan tekad dan semangat Pemerintah Aceh dalam meningkatkan usaha induk udang windu, ikan karang dan budidaya ikan kakap di kawasan pesisir pantai Aceh. ” Kami percaya Bapak Presiden dan Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan dapat mendukung program keramba Jaring Apung Lepas untuk dikembangkan di kawasan lepas pantai Aceh,” kata gubernur.

Dalam rangka mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan, Gubernur Zaini juga menjelaskan, telah memberi perhatian khusus pada tiga komoditi utama, yaitu padi, jagung dan kedelai.

Hasilnya, sejak tahun 2008 sampai tahun 2016, Pemerintah Aceh telah berhasil mengembangkan areal sawah baru seluas 26.059 hektar dengan pola bantuan sosial masyarakat. (Humas Aceh)

Check Also

Gubernur Resmikan Sekretariat KKR Aceh

Humas Aceh | 22 Juni 2017 Banda Aceh – Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah …