Home / Berita Terkini / Wagub: Kunjungan Kerja adalah Bentuk Silaturrahmi

Wagub: Kunjungan Kerja adalah Bentuk Silaturrahmi

Humas Aceh | 19 Okt 2017

Aceh Barat – Silaturrahmi adalah filosofi tertinggi dari kunjungan kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang berlangsung mulai hari ini (18-31/10). Oleh karena itu, semangat silaturrahmi ini diharapkan dapat membuat hubungan antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota semakin baik. Dengan sinergi yang baik, berbagai kendala yang ada dapat segera diketahui dan dicari solusinya.

Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah meninjau proyek lanjutan pembangunan Pasar Tradisional Ujong Pasie, Nagan Raya, Rabu 18 Oktober 2017.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, saat memberikan sambutan dan arahan kepada Bupati Aceh Barat, dan seluruh jajaran serta rekanan, pada kunjungan kerja untuk memantau perkembangan sejumlah proyek infrastruktur yang ada di sejumlah wilayah di Aceh, Rabu (18/10/2017).

“Silaturrahmi itu penting! Kunjungan ini membuktikan bahwa tidak ada istilah superman dalam hal pembangunan. Oleh karena itu, semoga silaturrahmi ini semakin menguatkan sinergi antara semua pihak di kabupaten/kota dengan Pemerintah Aceh dikedepankan dalam setiap proses pembangunan,” ujar Wagub.

Nova juga menghimbau kepada para pemangku kebijakan dan rekanan untuk tidak takut atau alergi dengan kunjungan kerja yang dilakukan Gubernur dan Wagub karena kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dalam rangka melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek infrastruktur di kabupaten/kota.

“Kunjungan kerja ini merupakan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam rangka melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur. Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan tetapi untuk menemukan kendala dan mencari solusinya,” tegas Wagub.

Dalam kunjungannya ke Aceh Barat, Wagub dan rombongan meninjau proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien. Untuk diketahui bersama, RS ini merupakan salah satu dari lima RS Regional yang rencananya dibangun Pemerintah Aceh.

Berdasarkan rencana, RS Cut Nyak Dhien akan dibangun dua lantai plus basement dengan kapasitas 500 tempat tidur atau dua kali lebih besar dibanding dengan RS Cut Nyak Dhien yang lama. Meski saat ini proses pengerjaan minus 10 persen dari target awal, namun Wagub optimis proses pengerjaan akan selesai sesuai target.

“Deviasi 10 persen itu masih ambang batas yang bisa dimaklumi. Namun tadi sudah saya perintahkan agar rekanan menambah tenaga kerja, memberlakukan sistem kerja shift, dan merubah metode kerja. Untuk mengejar ketertinggalan 10 persen target itu harus bekerja dengan tidak biasa, maka metode kerj harus dirubah,” imbuh Gubernur.

Terkait pembangunan RS regional, Wagub menghimbau semua pihak untuk memfokuskan segala daya upaya untuk kesuksesan penyelesaian pembangunan RS Cut Nyak Dhien. “Semakin cepat selesai, maka manfaatnya akan semakin dirasakan oleh warga.”

Mulai tahun 2018, sambung Wagub, proyek pembangunan RS ini akan dilanjutkan dengan skema multi years. “Saat ini kita sedang menunggu persetujuan Mendagri. Oleh karena itu, sinergi kita sangat diperlukan agar skema pembangunan multiyears mendapat persetujuan Mendagri.

Dalam kesempatan tersebut Wagub kembali mengingatkan agar Pemkab Aceh Barat segera perespon janji Menteri Kelautan dan Perikanan beberapa waktu lalu saat memberikan kuliah umum di Universitas Teuku Umar. “Pemkab harus segera merespon janji Ibu Susi terkait pembangunan TPI dan Cold Storage di Aceh Barat. Segera kirim surat dan proposal.

Selain RS Cut Nyak Dhien, Wagub juga meninjau lokasi proyek pembangunan Pesantren Hafidz. Di lokasi ini, Wagub kembali mengingatkan rekanan untuk bekerja lebih cepat karena pengerjaannya mengalami deviasi sebesar 15 persen dari target awal.

“Selagi cuaca bagus, maka pengerjaan harus dipacu. 15 persen ini deviasi yang besar. Segera tambah pekerja dan rubah metode kerja,” ujar Wagub tegas.

Tahun 2017 ini, di Aceh Barat terdapat 110 paket pengerjaan dengan total anggaran sebesar RP178,4 miliar.

Dari paket proyek tersebut, sebanyak 71 paket senilai 100,1 miliar merupakan proyek yang bersumber dari dana otonomi khusus. Sedangkan 39 paket senilai Rp78,3 miliar merupakan paket yang bersumber dari dana APBA

Dari Aceh Barat, Wagub dan dan rombongan langsung bertolak ke Kabupaten Nagan Raya. Di sini, Wagub meninjau proyek lanjutan pembangunan Pasar Tradisional Ujong Pasie.

Melihat lokasi pembangunan pasar yang jauh dari pemukiman warga, Wagub menghimbau agar Pemkab Nagan Raya meninjau ulang proyek tersebut.

“Coba ditinjau ulang dan evaluasi. Jika kita lanjutkan masih membutuhkan dana Rp12 miliar lagi dan itu belum tentu fungsional, mengingat lokasi yang sangat jauh dari pemukiman warga dan pusat keramaian. Namun jika dihentikan jug sayang dana besar yang telah dikeluarkan untuk pembangunan proyek hingga ke tahap ini,” ujar Wagub.

“Pasar itu adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli yang bertransaksi, namun jika lokasinya saja sangat jauh dari pemukiman warga, saya pesimis bangunan itu akan fungsional walaupun telah 100 persen dibangun. Saran saya, segera turunkan konsultan untuk mengkaji apakah layak proyek tersebut dilanjutkan, atau jika bisa dialihkan, kira-kira dialihkan untuk bangunan apa untuk lokasi seperti itu,” sambung Wagub.

Di Nagan Raya, Wagub juga meninjau lokasi pembangunan Stadion Aceh Jaya yang berada di dalam kawasan komplek perkantoran Pemkab Aceh Jaya.

Tahun ini, di Nagan Raya terdapat 107 paket proyek yang bersumber dari dana otonomi khusus dan tersebar di sejumlah dinas, dengan total anggaran mencapai Rp165,5 miliar. Sedangkan proyek yang bersumber dari dana APBA sebesar Rp 41 Miliar yang tersebar di 30 paket pengerjaan.

Dalam kunjungan kerja kali ini, Wakil Gubernur Tidak hanya didampingi oleh para Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh terkait tetapi turut pula membawa serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dari Daerah Pemilihan mereka. Para anggota DPRA yang turut serta dalam kunjungan kerja Wagub Aceh adalah M Tanwir Mahdi, Iskandar Daud, Zaini dan Zainal.

Wacanakan Forum Legislatif

Dalam sambutannya pada pertemuan dengan Bupati dan jajaran SKPK Aceh Barat, Iskandar Daud, menyatakan apresiasi kepada Pemerintah Aceh yang telah berinisiatif untuk mengajak legislatif pada kunjungan kerja tahun ini.

“Ini baru pertama kali, semoga kunjungan bersama ini bisa tetap dipertahankan, karena dengan begini maka sinergi antara eksekutif dan legislatif dalam rangka melakukan pembangunan dan pengawasan dapat terlaksana,” ujar Iskandar Daud.

“Kita ingin membangun paradigma baru, adanya keterpaduan Pemerintah Aceh dengan DPRA, kemudian ada bupati/wali kota dan DPRK, SKPA di Pemerintahan Aceh dan SKPK semua bersatu padu menjadi sebuah tim. Karena semua skema pembangunan yang kita lakukan memiliki tujuan yang sama, yaitu kemanfaatan bagi rakyat. Oleh karena itu, kerja-kerja ini harus kita lakukan bersama-sama,” timpal Wagub.

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Bupati Nagan Raya, Jamin Idam dan seluruh jajaran SKPK Nagan Raya, Wakil Gubernur Aceh mengungkapkan bahwa Pemerintah Aceh mewacanakan pembentukan Forum Legislatif Aceh. Forum ini nantinya terdiri atas anggota DPR RI asal Aceh, Anggota DPRA dan DPRK.

“Pemerintah Aceh berharap jika forum ini jadi terbentuk, maka akan sangat membantu kerja-kerja para anggota legislatif. Selain itu, dengan berlangsungnya forum ini secara periodik maka akan menghindari kecolongan tereduksinya UUPA dan berbagai kewenangan Aceh lainnya tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. Nanti pak Gubernur atau saya siap menjadi Host-nya” pungkas Wagub. (Ngah)

Check Also

Abu Paya Pasi: Jaga Ukhwah Islamiyah

Humas Aceh | 24 Nov 2017 IDI – Pimpinan Pondok Pesantren/Dayah Bustanul Huda Julok, Tgk. …