Home / Berita Terbaru / Wali Nanggroe: Perdamaian Aceh Jadi Model Perdamaian Dunia

Wali Nanggroe: Perdamaian Aceh Jadi Model Perdamaian Dunia

Banda Aceh 15 November 2015

Banda Aceh – Masyarakat Aceh telah berhasil menghadapi dua bencana yang besar, bencana Tsunami yang dahsyat dan konflik selama 30 tahun dengan perdamaian yang sudah kita raih 10 tahun lalu hingga saat ini. Ini adalah bukti kepada dunia bahwa perdamaian Aceh dapat menjadi contoh dan model perdamaian dunia.

Hal tersebut disampaikan oleh Wali Naggroe, PYM Malik Mahmud Al-Haytar saat memberi sambutan pada acara puncak peringatan 10 tahun MoU Helsinki di Taman Ratu Safiatuddin, Minggu (15/11).

Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Aceh Monitoring Mission (AMM), Peiter Feith, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Fransisco Pardon Fontan, sejumlah Menteri, Duta Besar negara sahabat serta para tokoh perdamaian Aceh.

“Saya selaku Wali Nanggroe dan mewakili Masyarakat Aceh mengucapakan terima kasih Kepada masyarakat internasional, lembaga Multilateral International, NGO & LSM, Media Cetak dan Elektronik dan semua pihak yang telibat yang telah berpartisipasi dengan sungguh sungguh dan konsisten mengawal seluruh proses perdamaian sampai saat ini”  ujarnya.

Wali Nanggroe menjelaskan, misi utama dari perdamaian adalah untuk membangkitkan Aceh sebagai sebuah negeri yang rakyatnya sejahtera, adil dan makmur dalam kehidupan sosial, ekonomi dan demokratis.

“Tidak ada artinya perdamaian aceh jika rakyat masih berada masih dalam kesulitan, namun ibarat seorang anak yang baru lahir, kita  memerlukan perjuangan-perjuangan yang lebih banyak lagi untuk mewujudkan misi mulia tersebut” katanya.

Menurutnya, waktu 10 tahun bukanlah waktu yang cukup untuk keluar dari belenggu ketidakadilan sosia dan ekonomi serta trauma konflik ditambah dengan trauma bencana Tsunami yang dahsyat.

“Saya percaya, dengan semangat juang bangsa aceh yang dikenal tangguh oleh dunia, kita tidak saja sanggup tetapi berani melawan kemungkaran atau kedhaliman, untuk itu marilah kita bersatu untuk bergerak menjawab tantangan tantangan yang ada dihadapan supaya perdamaian ini abadi di aceh” ujar Wali Nanggroe dengan penuh semangat

Pada kesempatan tersebut, Wali Nanggroe juga menyampaikan pesan yang pernah disampaikan Pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (Alm) Hasan Tiro yang menyatakan dalam perang telah banyak pengorbanan, akan tetapi dalam kedamaian kita harus bersedia berkorban lebih banyak lagi.

“Biaya perang memang sangat mahal, tapi biaya memelihara perdamaian jauh lebih mahal, peliharalah perdamaian ini untuk kesejahteraan kita semua.” Kata Wali Nanggroe menirukan pesan yang pernah disampaikan oleh (Alm) Hasan Tiro.

Sementara itu, Mantan Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM), Peiter Feith mengatakan, Aceh akan selalu berada di hatinya.

“Saya bersedia jika dipanggil kembali untuk membantu dalam bentuk apapun untuk mengatasi masalah yang dihadapai Aceh dan Indonesia,” ujarnya.

Pieter mengatakan, hal paling penting saat  ini bagi Aceh adalah menjaga perdamaian yang sudah diraih dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi maupun sosial masyarakat Aceh.

 

Check Also

Dukung Gerakan Zakat Indonesia, Gubernur Aceh Terima Anugerah BAZNAS Award 2022

Jakarta – Gubernur Aceh Ir H Nova Iriansyah MT menerima anugerah BAZNAS Award 2022, dalam …