Home / Berita Terkini / Gubernur Terima Kunjungan Abdul Latief dan Pengusaha China

Gubernur Terima Kunjungan Abdul Latief dan Pengusaha China

Banda Aceh | 15-4-2015 | Humas Aceh

Banda Aceh – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, menerima kunjungan dari Abdul Latief, pengusaha nasional berdarah Padang, kelahiran Banda Aceh, sekaligus mantan Menteri Tenaga Kerja di era Presiden Soeharto, (Rabu, 15//4/2015).

‘Mudik’ ke Aceh, Abdul Latief tidak sendiri. Pria yang juga sempat dipercaya menjadi Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya ini, juga membawa serta Shen Chao, Presiden Direktur PT China Harbour Indonesia.

Perusahaan yang berkantor pusat di Batavia Tower Jakarta itu, merupakan cabang dari perusahaan China Harbour Engineering Co. Ltd, yang berkedudukan di China.

Selesai dijamu makan malam, Abdul latief dan rombongan terlihat serius menggelar pembicaraan dengan Gubernur. Dalam pembicaraan tersebut, Gubernur Aceh didampingi oleh Kepala Badan Pengusahaan kawasan Sabang (BPKS), Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh.

“Kunjungan mereka kemari dalam rangka Feasibility Study (Study Kelayakan-red) dan melihat apa saja yang mungkin dapat mereka lakukan, terutama di Sabang, tempat yang hari ini sudah mereka lihat langsung,” terang Gubernur usai menggelar pertemuan dengan Abdul Latief dan rombongan.

Zaini juga menjelaskan rombongan telah mengunjungi Pulau Weh, Pulau Nasi dan Pulau Aceh untuk melihat potensi apa saja yang mungkin dikembangkan disana.

“Mereka tertarik. Namun dari hasil perbincangan tadi kelihatannya mereka akan memulai pada bidang perikanan. Namun tetap juga melirik hal lain, seperti pelabuhan dan membangun jalur kereta api di Aceh.”

Besok (Kamis, 16/4) Abdul Latief dan rombongan direncanakan akan berkunjung ke Dinas Perhubungan untuk melihat dan berdiskusi lebih lanjut tentang dunia perkereta-apian di wilayah paling barat Indonesia ini.

Seperti diketahui, beberapa hari lalu, pihak Balai Kereta Api telah bersua dengan Gubernur dan berjanji akan membangun jalur kereta api dari kabupaten Bireuen ke Kabupaten Sigli, sejauh lebih dari 160 kilometer.

Dana awal untuk pembebasan lahan proyek ini diperkirakan akan menelan biaya sebesar Rp 420 miliar, yang bersumber dari dana APBN.

Gubernur menambahkan, untuk wilayah Sabang, para investor sangat tertarik untuk mengembangan sektor perikanan dan pariwisata.

Abdul Latief: Kunjungan ini Tindak Lanjut dari Kunjungan Gubernur ke China

Sementara itu, Abdul Latief menjelaskan, kunjungannya bersama rombongan ke Aceh merupakan tindak lanjut dari kunjungan Gubernur Aceh ke China beberapa waktu lalu.

“Kita sudah melakukan kunjungan dan melihat seluruh fasilitas yang telah dibangun termasuk pelabuhan untuk ikan. Nah, ternyata proyek yang telah dilakukan oleh BPKS itu tinggal diteruskan saja. Jadi kami merasa terkejut karena apa yang telah dibangun hari ini akan mempermudah dan mempercepat kerja kami.”

Abdul Latief menambahkan, setelah melihat secara langsung dan mendapatkan bimbingan dari Gubernur Aceh, pihaknya akan segera menyusun Term of Reference (ToR) dan bahan-bahan yang kami tawarkan untuk menjalankan dan melanjutkan proyek Sabang yang sudah berjalan baik ini untuk segera dipercepat.

“Nantinya tim akan menunjuk satu lembaga study untuk melakukan study kelayakan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka panjang, Sabang telah memiliki program, apakah nantinya akan ada penyesuaian atau dilanjutkan,” tambah Latief.

Sedangkan untuk jangka pendek, Latief mengungkapkan pihaknya telah melihat beberapa kemungkinan, yaitu pengembangan pariwisata yang sesuai dengan kehidupan masyarakat Aceh.

“Selanjutnya pelabuhan serta perikanan. Pelabuhannya kan sudah ada, namun peralatan pendukungnya kan belum ada, sepert kontainer, gudang dan sarana pendukung lainnya. Itu yang nantinya akan kita bicarakan lebih lanjut.”

Latief juga menekankan, bahwa pengalaman PT China Harbour Indonesia dalam bidang pengelolaan pelabuhan akan sangat membantu pengoperasian pelabuhan Sabang, mulai dari pengurusan izin hingga promosi ke tingkat internasional.

Libatkan Rakyat dalam semua Proyek

Sedangkan dalam bidang perikanan, Abdul Latief menyatakan dukungannya terhadap keinginan Gunbernur Aceh untuk melibatkan masyarakat Aceh dalam setiap kegiatan, sehingga masyarakat lokal tidak hanya sebatas menjadi penonton.

“Inikan bagus, pihak China mendukung karena ini sangat benar. Kami akan membicarakan dengan pihak perusahaan BUMN China di bidang perikanan untuk membicarakan bagaimana joint venture (Kerjasama-red) antara Sabang dan perusahaan China ini dapat menjadi ‘Bapak Angkat’ yang nantinya menampung ikan-ikan yang ditangkap rakyat,” terang Latief.

Pendiri Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini juga menjelaskan, kapal-kapal penangkap ikan di Sabang dan sebahagian Banda Aceh tidak layak untuk beroperasi di laut lepas Aceh.

“Jadi, kita akan mendesain dan mempelajari kapal seperti a[pa yang cocok. Tapi, ini semua tergantung izin dari Menteri Kelautan. Nantinya kita akan mencocokkan pa program Pak Gubernur, apa program kementerian yang secara ekonomis harus menguntungkan. Nah ini yang akan kita coba dengan konsep Bapak Angkat tersebut.”

Latif juga mewanti-wanti agar ikan-ikan yang nantinya ditangkap oleh warga dapat ditampung dengan harga yang bagus. “Jangan sampai ikan yang ditangkap nantinya tidak tahu akan dipasarkan kemana. Untuk itu tentu saja pembangunan cold storage menjadi penting.”

“Banyak hal yang akan kita lakukan. Oleh karena itu, study kelayakan menjadi penting dalam upaya kita mencari formulasi terbaik bagi pendidikan dalam hal penggunaan dan pemanfaatan teknologi kepada para nelayan.”

Untuk itu, Abdul Latief mengajak semua pihak untuk mendukung berbagai program kerja yang telah dirancang oleh Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.

“Jika kita bersatu dan solid dalam satu tim yang sama, tentu saja tidak ada masalah yang tidak bisa terselesaikan,” pungkas Abdul Latief.

Check Also

Pemerintah Aceh Sepakati Konektivitas Andaman-Nicobar India

Banda Aceh – Pemerintah Aceh sepakat melakukan pengembangan konektivitas dan kerja sama ekonomi antara Aceh …