Banda Aceh | 17 04 2015
Sebagai organisasi keagamaan yang memiliki basis massa terbesar, Nahdlatul Ulama atau NU diharapkan terus berdampingan dengan Pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan. Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah meminta para ulama NU dan warga Nahdiyin terus meningkatkan kontribusinya sehingga bisa membawa Aceh menjadi wilayah yang lebih aman, damai dan sejahtera.
Harapan itu disampaikan Zaini Abdullah, dalam Konferensi Wilayah ke-13 Nahdlatul Ulama Aceh, yang berlangsung di Asrama Embarkasi Haji, Banda Aceh, Jum’at (17/4/) malam.
Konferensi Wilayah (Konferwil) XIII Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh di buka secara resmi oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA. Hadir dalam pembukaan, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar, Ketua DPR Aceh, Tgk Muharuddin, Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Saa’duddin Jamal, Wakil Bupati Pidie Jaya, H Said Mulyadi dan perwakilan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Aceh. Selain itu juga hadir, jajaran pengurus PWNU Aceh, MPU Aceh, Para pejabat di lingkup Kanwil Kementrian Agama Aceh dan diikuti ratusan peserta Konferensi dari Kabupaten/kota di Aceh.
Menurut Doto Zaini, NU telah banyak berkiprah dan memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan Islam, pergerakan kemerdekaan, dan perkembangan kehidupan berbangsa di negeri ini. Pemerintah Aceh, kata Gubernur, tentunya mendukung agar organisasi ini semakin solid dan berkembang, mengingat NU merupakan organisasi keagamaan yang strategis dengan konsep dan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Untuk itu saya berharap Konferensi Wilayah ini tidak hanya sekedar memilih pengurus atau ajang silarurrahmi para ulama dan Nahdiyin, tapi juga mampu memperkuat kembali peran NU dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang dakwah, pendidikan, dan kebersamaan, sehingga NU mampu memperteguh komitmennya untuk Aceh yang Islam, bersatu dan bermartabat, sebagaimana tema konferensi ini,” pungkas Doto Zaini.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Zaini meminta warga Nahdliyin untuk membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah kemasyarakatan yang saat ini terjadi di Aceh. Masalah tersebut antara lain terkait aliran sesat, narkoba, termasuk ISIS yang sedang mengancam dunia Islam. Doto Zaini berharap, NU dapat membantu pemerintah dalam menghalau berbagai persoalan tersebut. “Kita perlu membentengi diri ISIS sejak dini, dan perlu saya tegaskan bahwa ISIS tidak ada tempat di Aceh,” kata Gubernur.
Selain itu, Zaini Abdullah juga menyampaikan persoalan yang sangat mengkhawatirkan masyarakat saat ini adalah munculnya aliran sesat. Fenomena ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Itu sebabnya, dokter lulusan USU Medan ini meminta NU bisa membetengi keimanan umat dengan melakukan berbagai kegiatan keagamaan. “Kiranya para ulama NU dan para nahdliyin berkenan meningkatkan kontribusinya dalam mengatasi berbagai masalah yang kita hadapi. Sehingga Aceh bisa menjalankan Syariat Islam secara kaffah,” tandasnya.
Selaku pribadi dan atas nama Pemerintah Aceh, Gubernur Zaini Abdullah turut mengucapkan Selamat atas pelaksanaan Konferensi Wilayah ke-13 Nahdlatul Ulama Aceh tahun 2015 ini. Harapannya, Konfrensi berjalan sukses dan memberi manfaat bagi kemajuan Nahdlatul Ulama dan organisasi keagamaan di Aceh, khususnya lagi bagi pembangunan dan kemaslahan umat di bumi Serambi Mekkah ini.
Peran dan Kiprah NU
Dalam momen yang khitmat itu, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj menyampaikan pidatonya tentang perjuangan yang dilakukan warga NU, mulai masa perjuangan bangsa hingga saat ini. Menurut Said, banyak ulama-ulama “bersarung” diseluruh nusantara melakukan perjuangan membela tanah air melawan penjajah Belanda. “Negara Islam tanpa ada nasionalisme warganya, maka negara itu akan hancur,” ujarnya.
Said Aqil mencontohkan seperti Afganistan dan beberapa negara Islam lainnya di Timur Tengah. Mereka negara Islam, tapi perang terus terjadi. “Alhamdulillah kita Indonesia tidak ada seperti itu. Karena kita memiliki nasionalisme yang tinggi. Kita bukan tidak ada perang, tapi karena adabya nasionalisme maka perang ini bisa kita redakan,” katanya.
Usai seremonial pembukaan Konferwil, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haitar turut menyerahkan cinderamata berupa cincin giok Aceh kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Prof Dr Said Aqil Siradj. Wali Nanggroe menyamatkan cincin giok di jari manis sebelah kanan tangan Said. Usai penyamatan oleh Wali, Said mengangkat tangannya untuk memperlihatkan cincin giok kepada peserta Konferwil sambil tersenyum.
Ketua Panitia Konferwil, Drs H Ibnu Sa’dan MPd, melaporkan, konferensi wilayah ke XIII PWNU Aceh akan berlangsung selama tiga hari, 17 hingga 19 April, dihadiri 375 peserta dari unsur PWNU Aceh, PCNU kabupaten/kota se-Aceh, Badan Otonom, lembaga dan Lajnah NU tingkat provinsi. Salah satu agenda penting Konferwil XIII ini, terangnya, adalah pemilihan pengurus periode 2015-2020, yang merupakan upaya NU untuk membenahi organisasi menjadi lebih baik lagi dan memperteguh komitmen Nahdlatul Ulama untuk Aceh yang islami, bersatu, dan bermartabat.(Humas)
BIRO ADMINISTRASI PIMPINAN SETDA ACEH Menyampaikan yang Layak Disampaikan