Home / Berita Terkini / HUT ke-43, Bank Aceh resmi Syari’ah

HUT ke-43, Bank Aceh resmi Syari’ah

Humas Aceh | 7 Agst 2016

Banda Aceh – “Hari ini, dengan bangga saya umumkan, bahwa perubahan PT Bank Aceh dari bank konvensional menjadi Bank Aceh Syariah, telah resmi mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan.”

Seluruh unsur pimpinan dan karyawan PT Bank Aceh Syari’ah, serta para undangan yang memadati sisi barat halaman depan Meuligoe Gubernur Aceh, langsung menyambut dengan tepuk tangan suka cita atas pengumuman perubahan sistem operasional PT Bank Aceh dari sistem konvensional menjadi sistem Syar’iah, Sabtu (6/8/2016).

Sebagaimana diketahui, bahwa dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB PT Bank Aceh pada 25 Mei 2015, seluruh pemegang saham yang didukung oleh para ulama dan tokoh masyarakat Aceh, telah menyepakati  PT Bank Aceh akan mengubah sistem manajemennya menjadi sistem syari’ah secara bertahap.

Untuk mencapai harapan tersebut, bertepatan dengan HUT Bank Aceh ke-42 tahun lalu, Sekretaris Daerah Aceh, yang juga merupakan Komisaris Utama Bank Aceh, telah melakukan kick off tanda dimulainya pembenahan dan perubahan sistem manajemen bank ini secara bertahap.

Bersamaan dengan itu, berbagai pelatihan dan peningkatan kapasitas staf terus dilakukan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Selain itu, proses perizinan terkait perubahan sistem manajemen dan operasional Bank Aceh juga terus dilakukan oleh pihak direksi.

“Langkah ini merupakan sejarah baru dalam dunia perbankan Indonesia, sebab PT Bank Aceh merupakan bank umum pertama yang secara menyeluruh mengubah sistemnya menjadi dari konvensional menjadi bank syari’ah,” ujar pria yang akrab disapa Doto Zaini itu.

Gubernur meyakini, dengan kesiapan para staf dan tim manajemen, diperkuat lagi dengan restu OJK, maka langkah PT Bank Aceh menjadi bank syariah tidak mengalami persoalan karena semuanya sudah berjalan sesuai prosedur yang berlaku.

“Itu sebabnya ulang tahun Bank Aceh kali ini mengusung tema “Hijrah–Berkah–Bertambah” yang berarti tahun ini merupakan langkah awal perpindahan PT. Bank Aceh menjadi perbankan syariah. Mudah-mudahan hal ini membuat Bank Aceh Syariah dapat berperan lebih optimal dalam peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh.”

HUT Sarana Mengevaluasi Kinerja

Dalam kesempatan tersebut, Doto Zaini juga mengajak para direksi Bank Aceh Syari’ah untuk menjadikan momentum ulang tahun bank kebanggaan Rakyat Aceh ini, sebagai sarana untuk mengenang perjalanan serta mengevalusi peran yang telah diberikan dalam memajukan bank ini dan perannya bagi pengembangan perekonomian rakyat Aceh.

Gubernur berharap, evaluasi tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk memperkuat PT Bank Aceh, sehingga mampu berperan lebih maksimal dalam membangun dan mensejahterakan rakyat Aceh.

“43 tahun bukanlah usia muda untuk perjalanan sebuah bank umum seperti PT Bank Aceh. Selama perputaran waktu itu, banyak catatan sejarah yang ditorehkan bank ini, sehingga Bank Aceh tidak hanya penting untuk masyarakat Aceh, tapi juga mampu berkontribusi bagi pembangunan nasional,” kata Gubernur.

“Bank Aceh telah mampu menjadi yang terdepan dalam mendukung aktivitas pemberdayaan ekonomi masyarakat di daerah kita ini. Bahkan di tengah perekonomian nasional yang melambat pada tahun lalu, PT Bank Aceh tetap mampu meningkatkan kinerjanya dalam mendukung perekonomian daerah,” sambung Gubernur.

Bukan tanpa alasan Gubernur Aceh menyatakan bahwa Bank Aceh berkontribusi bagi pembangunan perekonomian nasional. Data yang disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Aceh, Busra Abdullah, telah menercerminkan kinerja bank yang cukup baik.

“Hingga periode Juni 2016 pencapaian aset PT Bank Aceh sudah mencapai Rp20,78 triliun. Sementara perolehan laba sebelum pajak untuk semester pertama tahun 2016 telah mencapai Rp. 308 Miliar, dan realisasi penyaluran kredit kepada sektor usaha pada semester pertama, Juni 2016  sudah meningkat menjadi sebesar Rp12,89 triliun,” ungkap Busra.

Pertumbuhan kredit Bank Aceh juga mengalami peningkatan. Di tahun 2011 pertumbuhan kredit Bank Aceh berada di angka Rp9,1 triliun, sedangkan di tahun 2016 ini meningkat menjadi Rp12,1 triliun. Berbagai pencapaian itu telah menjadikan Bank Aceh sebagai Bank Berpredikat Sehat.

Busra menambahkan, dengan trend positif tersebut, Bank Aceh juga berhasil menyabet berbagai penghargaan dari sejumlah badan independen, diantaranya, CEO Terbaik 2016 untuk Direktur Utama, BUMD Terbaik 2016 untuk Bank Aceh, Pembina BUMD terbaik kepada Gubernur Aceh, serta sejumlah prestasi lainnya.

Menurut Busra, semua pencapaian ini menjadi bukti bahwa seluruh pemangku kebijakan, jajaran direksi dan komisaris telah bekerja dengan baik. Busra juga berharap agar kinerja ini dapat ditingkatkan, sehingga Bank Aceh menjadi yang terdepan dalam mendukung aktivitas pembangunan di daerah berjuluk Serambi Mekah ini.

Jangan Cepat Berpuas Diri

Mengakhiri sambutannya, Gubernur mengajak seluruh pimpinan, direksi dan staf PT Bank Aceh untuk tidak berpuas diri dan tetap memiliki etos kerja yang baik demi kemajuan Bank Aceh yang berdayaguna kepada seluruh masyarakat Aceh.

“Saya perlu ingatkan, meski prestasi bank ini terus menunjukkan kemajuan, tapi saudara-saudari jangan cepat berpuas diri, sebab tantangan yang kita hadapi semakin berat. Dengan  semangat “Hijrah–Berkah–Bertambah”, mari kita hadapi tantangan itu dengan sikap optimis dan pantang menyerah,” kata Gubernur.

“Sebagai pemegang saham pengendali sekaligus Kepala Pemerintahan Aceh, saya mengucapkan terimakasih atas dedikasi dan kerja keras yang telah dibuktikan jajaran direksi dan seluruh staf PT Bank Aceh,” sambung Doto Zaini.

Gubernur juga meminta kepada Bank Aceh agar dapat mensosialisasikan konversi Bank Aceh, mengingat masih banyak masyarakat Aceh yang belum mengetahui tentang perubahan sistem operasional Bank Aceh yang telah sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at Islam.

“Harus ada sosialisasi secara menyeluruh agar masyarakat paham, bahwa Bank Aceh kini telah beroperasi dengan sistem syari’ah, sehingga tidak ada lagi praktik-praktik ribawi di dalamnya. Hal ini penting karena selama ini banyak masyarakat yang takut untuk menggunakan jasa perbankan karena takut akan praktik ribawi tersebut.”

Senada dengan Gubernur, Ketua OJK Perwakilan Aceh, Ahmad Wijaya Putra, dalam sambutannya juga meminta agar sistem perbankan Syari’ah dapat di sosialisasikan lebih terprogram, yaitu dengan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan, baik di tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Tingkat Atas.

“Perbankan syari’ah harus disosialisasikan mulai dari siswa sekolah dasar. Saat ini baru disosialisasikan kepada mahasiswa, maka kedepan, perbankan syari’ah harus masuk dalam kurikulum siswa sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Atas,” himbau Ahmad Wijaya.

Dalam acara tersebut, Gubernur didampingi Direktur Utama Bank Aceh Syari’ah dan Ketua OJK Perwakilan Aceh, berkesempatan menyematkan lencana pengabdian 25 tahun kepada empat orang karyawan dan karyawati Bank Aceh, serta menyerahkan santunan kepada anak yatim.

Proses konversi ditandai dengan pemukulan rapa’i oleh Gubernur Aceh, Ketua Dewan Pengawas Bank Aceh, Adnan Ganto, Komisaris Utama dan Direktur Utama Bank Aceh serta Ketua OJK Perwakilan Aceh.

Check Also

[Video] Update Covid19 Aceh edisi Rabu 08 April 2020

[Video] Update Covid19 Aceh edisi Rabu 08 April 2020