Home / Ekonomi / Sekda Aceh Buka FKEK Regional Aceh

Sekda Aceh Buka FKEK Regional Aceh

Banda Aceh | 09/09/2014|LOGO-HUMASs1

Banda Aceh [Humas Aceh] Asisten II Setda Aceh, Azhari SE, mewakili Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, Dermawan MM, membuka secara resmi Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan (FKEK) Regional Aceh Triwulan II-2014, di Hermes Palace Hotel, hari ini, Selasa (9/9/2014).

Sekda berharap, dalam forum yang mengusung tema ‘Memacu Pertumbuhan Ekonomi Aceh dengan Akselerasi Realisasi APBA dan Investasi Pemerintah-Swasta’ itu, dapat tercipta sebuah diskusi yang menghasilkan rekomendasi atau catatan penting yang dapat dijadikan rujukan bagi Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota yang ada di Aceh, dalam rangka percepatan pembangunan di Aceh.

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah bersedia berhadir dan memberikan sumbangsih fikirannya dalam forum ini. Semoga forum ini dapat menjadi sebagai sebuah momentum untuk membangkitkan semangat pembangunan di Aceh.”

Ada tiga poin penting yang akan dibahas dalam forum tersebut. “Jelas sekali kalau isu yang dibahas adalah persoalan yang sedang hangat-hangatnya di Aceh. Agar jelas, mari kita mengulas masing-masing tiga kalimat penting yang menjadi pokok bahasan dari diskusi ini,” ujar Sekda.

 

Pertama, Percepatan pertumbuhan ekonomi Aceh. Sejak awal,m poin ini memang sudah menjadi target yang harus dicapai. Untuk percepatan ekonomi, ada banyak langkah yang akan lakukan Pemerintah, antara lain penguatan sektor UKM, dukungan untuk sektor pertanian dan perikanan, pembangunan sarana dan prasarana fisik untuk penguatan ekonomi masyarakat dan lainnya. Program percepatan ekonomi Aceh tidak hanya dijalankan melalui anggaran APBA, tapi juga yang bersumber dari APBN.

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) juga merupakan bagian dari program nasional, di mana Aceh termasuk salah satu di dalamnya. Terkait dengan MP3EI ini, ada beberapa proyek fisik yang sudah dilaksanakan, salah satunya pembangunan pelabuhan Kreueng Geukuh yang diproyeksikan sebagai pelabuhan ekspor impor untuk Aceh wilayah timur.

Kedua, Penyerapan Anggaran Pemerintahan Aceh, Hal ini memang salah satu persoalan yang kerap terjadi di Aceh tiap tahunnya. Jumlah APBA tahun 2014 yang mencapai lebih dari Rp 13 triliun, namun daya serapnya yang baru berada dikisaran 40 persen hingga April. Melihat kondisi ini Gubernur Aceh telah mengeluarkan surat peringatan kepada sejumlah SKPA yang dianggap kurang optimal dalam penggunaan anggaran ini. Setelah teguran itu disampaikan, kini serapan APBA 2014 sudah mulai meningkat. Diharapkan pada Desember nanti serapan APBA akan mendekati 100 persen.

“Persoalan serapan APBA ini adalah salah satu hal yang perlu dikritisi, karena ini merupakan jaminan bahwa anggaran itu benar-benar digunakan untuk pembangunan. Namun hal yang tak kalah penting tentu saja memastikan bahwa anggaran itu benar-benar tepat sasaran dan berdaya guna.”

Ketiga, Investasi Pemerintah dan Swasta. Hal ini juga bagian tak terpisahkan dalam penguatan fondasi pembangunan Aceh. Saat ini Pemerintah Aceh sedang gencar-gencarnya mengundang investor untuk berinvestasi di Aceh. Pemerintah Aceh juga telah menjanjikan berbagai kemudahan kepada para calon investor. Mulai dari lahan industri, proses perizinan dan administrasi, jaminan keamanan dan sebagainya. Sejauh ini, hasilnya mulai menggembirakan. Namun hal tersebut bukan berarti kita harus berhenti mempromosikan Aceh kepada para pelaku dunia usaha. Sekda berpendapat, dengan semakin banyaknya investasi di Aceh, maka lapangan pekerjaan akan semakin banyak tersedia, dengan demikian maka roda perekonomian rakyat akan menggeliat dan semakin bergerak cepat.

“Tiga masalah yang saya sebutkan itu memang belum bisa dikatakan optimal di Aceh. Ada hambatan dan persoalan yang kita hadapi dalam menjalankannya. Narasumber dari SKPA terkait nantinya akan menjelaskan secara detail tentang berbagai masalah yang ada saat ini. Mudah-mudahan dari penjelasan nanti, informasinya semakin terang dan kita dapat mencari jalan terbaik untuk menyelesaikannya.”

Diakhir sambutannya, Sekda juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pimpinan Bank Indonesia, atas inisiasi pelaksanaan forum tersebut. Sekda berharap forum ini akan menghasilkan formulasi terbaik bagi rakyat dan pembangunan Aceh.

“Dengan mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’, Kegiatan Forum Kajian Ekonomi Keuangan Regional Aceh, dengan ini resmi saya nyatakan dibuka,” pungkas Sekda.

Forum tersebut dihadiri oleh stake holder terkait, diantaranya, Direktur Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Direktur Utama Bank Aceh, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Investasi dan Promosi (Bainprom) serta Akademisi

Check Also

Pemerintah Aceh Peringati Hut Korpri Ke-48

Banda Aceh – Pemerintah Aceh menggelar upacara Peringatan HUT ke 48 KORPRI (Korps Pegawai Republik …