Home / Berita Terbaru / Sekda Tinjau Penyelenggaraan UN di Banda Aceh

Sekda Tinjau Penyelenggaraan UN di Banda Aceh

Banda Aceh | (Senin, 4/5/2014) | Humas Aceh

Khawatirkan Keselamatan Siswa, Sekda Perintahkan Bangunan Diuji Kelayakan.

Banda  Aceh – Sebanyak 95.583 siswa tingkat SMP di seluruh Aceh mulai mengikuti UN pada hari ini hingga tiga hari kedepan. Untuk mengetahui situasi UN di Aceh, Sekretaris Derah (Sekda) Aceh, Drs Dermawan MM, meninjau pelaksanaan Ujian Nasional Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sejumlah sekolah yang ada di Banda Aceh.

Dalam kegiatan tersebut, Sekda didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Hasanuddin Dardjo, Asisten II Setdako Banda Aceh dan  perwakilan dari Kanwil Kemenag Aceh, (Senin, 4/5/2014).

Sekda Aceh beserta rombongan memantau suasana ujian di dua sekolah, yaitu Madrasah Tsanawiyah Negeri II Banda Aceh. di Madrasah ini,  sebanyak 247, yang terdiri dari 150 siswa perempuan dan 97 siswa laki-laki mengikuti UN. Dan, di SMP Negeri 2 Banda Aceh, di sekolah yang dipimpin oleh Mursal Abd S Pd itu, sebanyak 230 siswa mengikuti UN, yang terdiri dari 102 siswa laki-laki dan 128 sisa perempuan.

Pada pemaparannya, Fardial, selaku Kepala MTsN 2 menjelaskan, pada tahun ajaran 2013-2014, saat UN masih merupakan syarat kelulusan siswa, madrasah yang berada di kawasan Lhueng Bata itu mencatatkan prestasi membanggakan, yaitu kelulusan siswa 100 persen. Saat ini, madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1967 itu telah berakreditasi A.

Fardial juga menjelaskan, saat ini ada beberapa prestasi yang telah dicapai oleh madrasah tersebut. Selain itu, beberapa kendala dan kebutuhan mendesak juga disampaikan oleh pilpinan MTsN II Banda Aceh itu.

Senada dengan MTsN 2, SMP 2 Banda Aceh juga menyampaikan beberapa hal dalam pemaparannya tentang visi-misi, kendala dan prestasi yang telah dicapai oleh sekolah yang berada di kawasan lamprit tersebut.

Menanggapi beberapa permintaan dari kedua sekolah tersebut, Sekda Aceh menjelaskan, meskipun Pemerintah Aceh memiliki dana pendidikan yang lumayan banyak, namun tidak bisa serta merta membangun sarana yang diminta oleh sekolah, apalagi fokus pembangunan pendidikan saat ini adalah mutu pendidikan bukan lagi infrastruktur.

“Memang Aceh memiliki banyak dana pendidikan karena berdasarkan Undang-undang, mulai dari APBN, APBA dan APBK, diwajibkan untuk mengalokasikan anggarannya sebesar 20 persen untuk pendidikan. Namun fokus kita saat ini adalah pembangunan mutu, baik kepada para pendidik juga kepada para peserta didik. Namun jika mendesak, bukan berarti tidak diperbolehkan menggunakan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur,” terang Dermawan.

Sedangkan mengenai permintaan dari pihak MTsN 2 Banda Aceh, Sekda menjelaskan, saat ini MTsN masih berada dibawah Kementerian Agama, untuk itu Sekda menyarankan agar pihak madrasah segera berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag.

“Berdasarkan kondisi yang ada, Pemerintah Aceh tentu saja akan membantu. Namun tentu saja ada mekanisme yang harus dilakukan oleh pihak madrasah, karena madrasah berada dibawah  Kementerian Agama,” jelas Sekda

Khawatirkan Keselamatan Siswa, Sekda Perintahkan Bangunan Diuji Kelayakan

Sementara itu, saat memantau ujian di SMP 2 Banda Aceh, Sekda sempat mengkhawatirkan kondisi bangunan bertingkat dua di SMP tersebut. Kondisi tiang-tiang penyangga bangunan tersebut sudah sangat memprihatinkan. Rangka besi pada tiang penyangga gedung tersebut telah menyembul keluar dan beton bangunannya mulai rontok.

“Harus segera diturunkan pihak terkait untuk memeriksa bangunan tersebut apakah layak atau tidak untuk dipergunakan lagi. Jika memang dinyatakan tidak layak, maka harus sesegera mungkin dikosongkan atau tidak dipergunakan lagi. Ini semata-mata adalah demi keamanan, kenyamanan dan keselamatan para peserta didik dan para siswa,” tegas Dermawan.

Menurut Sekda, jika kondisi bangunannya membahayakan proses belajar mengajar tentu saja akan ada pertimbangan tertentu, walaupun fokus pembangunan pendidikan saat ini adalah peningkatan mutu.

“Walaupun fokus pendidikan saat ini adalah pembangunan mutu, namun bukan berarti kita menafikan jika dilapangan ditemukan kondisi bangunan yang membahayakan. Untuk itu pihak terkait harus segera menyikapi kondisi bangunan di sekolah dan berkoordinasi dengan pihak terkait.”

Para peserta UN SMP se-Aceh akan mengikuti empat mata pelajaran yang akan berlangsung selama empat hari. Mata pelajaran yang akan diuji adalah Bahasa Indonesia (Senin, 4/5), Matematik (Selasa, 5/5), Bahasa Inggris (Rabu, 6/5) dan Ilmu Pengetahuan Alam (Kamis, 7/5).

Di Aceh Selatan, Soal UN Tertukar, Siswa Dikarantina

Sementara itu, SMP N 2 Labuhan Haji Barat, Kabupaten Aceh Selatan mengalami kendala, yaitu soal ujian yang tertukar dengan soal ujian milik siswa SMU. Dalam wawancara usai melakukan peninjauan di dua sekolah tersebut Kepala Dinas Pendidikan Aceh, menjelaskan, kesalahan yang terjadi bukan karena kesalahan pendistribusian tetapi pada kesalahan saat pengepakan soal.

“Alhamdulillah, dalam hal distribusi kita tidak mengalami kendala. Kesalahan yang terjadi hari ini memang tidak dapat kita prediksi karena segala hal telah kita upayakan dengan semaksimal mungkin. Namun ternyata isi amplop soal yang bermasalah. Di luar amplop tertulis soal ujian bahasa Indonesia, namun isinya ternyata soal bahasa Indonesia untuk jurusan IPA tingkat SMU,” terang hasanuddin Dardjo.

Menyikapi hal tersebut, Kadisdik Aceh telah melakukan langkah strategis untuk memastikan kegiatan UN yang diikuiti oleh 129 siswa di sekolah tersebut tetap dilaksanakan hari ini.

“Dari tujuh ruang, hanya di ruang tujuh yang soalnya benar sedangkan ruang satu hingga ruang enam soalnya adalah soal Bahasa Indonesia untuk SMA. Menyikapi hal tersebut, kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait disana untuk memperbanyak soal tersebut. Untuk menghindari kebocoran soal kita sudah mengkarantina seluruh siswa yang mengikuti ujian hari ini,” tambah Kadisdik Aceh.

Hasanuddin menambahkan, untuk menghindari kebocoran soal saat proses memperbanyak soal ujian, seluruh proses, mulai dari membawa ke tempat poto kopi dan pendistribusian kembali ke sekolah, soal akan diawasi secara ketat oleh aparat kepolisian dan pihak pengawas ujian.

“Bahkan, setelah proses memperbanyak soal selesai dilaksanakan, tempat poto kopi soal tersebut akan dijaga oleh beberapa personil polisi hingga ujian hari ini selesai dilaksanakan. Hal ini kita lakukan untuk meminimalisir kebocoran soal.”

“Kita terus berkoordinasi dengan seluruh pihak, baik di kabupaten terkait maupun pihak penyelenggara tingkat pusat di Jakarta mengenai kesalahan pendistribusian soal hari ini. Semoga pada hari berikutnya tidak terjadi lagi kesalahan seperti ini,” pungkas Hasanuddin Dardjo.(Ngah)

Check Also

Sekda: Mari Sukseskan Vaksinasi Siswa

SUBULUSSALAM – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah, mengajak seluruh jajaran dunia pendidikan, terutama pihak sekolah, …