Home / Berita Terkini / Wagub: Kasus Kekerasan Anak, Imbas dari Kesalahan Pola Asuh

Wagub: Kasus Kekerasan Anak, Imbas dari Kesalahan Pola Asuh

Banda Aceh, 7-10-2015 | Humas Aceh

Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf, menyatakan bahwa kasus kekerasan anak yang akhir-akhir ini marak diberitakan sejumlah media, merupakan imbas dari pola asuh yang salah dari orang tua dan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan oleh Wagub saat membuka secara resmi Seminar Pola Asuh Anak, yang diselenggarakan selama sehari penuh oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh, di AAC Dayan Dawood, Komplek Kampus Universitas Syiah Kuala, (Selasa, 6/10/2015).

Dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Azhari SE, selaku Asisten II Setda Aceh, Wagub berharap agar seminar yang mengangkat tema ‘Dahsyatnya Terapi dan Stimulasi Al-Quran dalam Pembentukan Kecerdasan Karakter dan Kesehatan Jiwa Raga’ itu dapat menjadi sebuah langkah penting dalam upaya membangun mekanisme perlindungan terhadap perempuan dan anak.

“Kita tentunya sangat prihatin dengan beberapa kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Aceh dalam waktu belakangan ini, yang bahkan ada yang merenggut korban jiwa. Terkadang, kasus kekerasan ini bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa, bahkan ada juga yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur,” ujar Wagub.

Menurut pria yang akrab disapa Mualem itu, berbagai hal yang terjadi belakangan ini tidak terlepas dari kesalahan dan kelalaian maupun perlakuan salah orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak, sehingga dalam beberapa kasus, anak bukan hanya menjadi korban bahkan menjadi pelaku.

“Kejadian-kejadian ini harus kita sikapi dengan kematangan emosional dan komitmen untuk mencarikan solusi yang tepat. Menurut hemat kami, khusus untuk kekerasan yang pelaku dan korbannya di kalangan anak-anak, secara lebih luas, sejatinya dilihat bahwa korban dan pelaku di bawah umur sama-sama ‘korban’ dari pola asuh yang kurang tepat.”

Wagub menambahkan, rumah adalah tempat pertama seorang anak mendapatkan perlakuan dan pelajaran tentang kasih sayang dan saling menghargai. Namun, masyarakat juga tidak dapat menutup mata dengan beberapa tindak kekerasan yang terjadi dilingkungan lain seperti sekolah.

“Seharusnya, sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, bukan sekedar tempat transfer ilmu pengetahuan. Sekolah adalah tempat karakter anak dibentuk, maka pengasuhan, pengawasan, dan perlindungan juga harus dilakukan dalam lingkungan sekolah,” lanjut Wagub

Wagub Tekankan Pentingnya Pembinaan ABH

Dalam kesempatan tersebut, Wagub juga mengingatkan, bahwa anak-anak yang berhadapan dengan kasus hukum tetap harus dianggap sebagai ‘korban’ akibat pengasuhan dan pengaruh lingkungan orang dewasa.

“Saya sepakat agar kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak di lingkungan sekolah maupun dilingkungan manapun, harus disikapi secara mendalam untuk memastikan apakah ada variabel lain yang menyebabkan anak-anak kehilangan nyawa dan kehilangan kemerdekaannya untuk menikmati hidup secara wajar dan penuh dengan nuansa kasih sayang,” ujar Wagub.

Sementara itu, mengacu pada Undang-undang Peradilan Anak Nomor 11 Tahun 2012,  pasal  5 dan 6, wajib dilakukan upaya diversi, yang bertujuan untuk mencapai  perdamaian antara korban dan anak, menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, dan menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.

“Kita tentu saja berharap agar anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dapat dibina dan dididik dengan sebaik-baiknya untuk menyongsong masa depan mereka yang masih panjang. Apa yang dilakukan oleh anak, akan sangat dipengaruhi oleh contoh dan perilaku orang yang ada disekitarnya.”

Menurut Wagub, jika seorang anak diasuh dengan kekerasan, dan sering melihat tindak kekerasan dari orang dewasa disekitarnya, maka besar kemungkinan anak tersebut akan melakukan kekerasan.

“Masa kanak-kanak adalah masa imitasi atau masa mencontoh. Ia akan menyerap secara baik, apa yang ada di sekitarnya. Keteladanan dari orang dewasa, baik orang tua di rumah maupun guru di sekolah, menjadi kunci dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak,” terang Wagub.

Media Mempengaruhi Perilaku Anak

Menurut Mualem, faktor lain yang mempengaruhi perilaku kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak adalah tayangan media, baik cetak ataupun elektronik. Terpaparnya anak-anak oleh materi kekerasan melalui media-media, berpotensi memberikan pengaruh negatif terhadap tumbuh kembang anak.

Karenanya, Wagub mengajak insan media untuk menguatkan peran positif dan kontribusinya dalam membangun karakter positif bangsa, melalui tayangan yang mendidik.Wagub juga mengajak seluruh jajaran Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pemerintah kabupaten/kota serta, seluruh pihak terkait, untuk bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis dalam menyusun kebijakan pembangunan.

“Mari kita wujudkan ketahanan keluarga, karena keluarga adalah lembaga pendidikan utama dan pertama yang akan membentuk jiwa, karakter dan perilaku seorang anak. Adalah mustahil kita dapat melahirkan generasi terbaik jika kita sebagai orang tua tidak bisa menjadikan rumah sebagai benteng utama pencegah kerusakan moral.”

Selain itu, lanjut Wagub, untuk mencegah kerusakan moral, maka para orang tua membutuhkan pemahaman yang baik tentang pola asuh anak yang baik dan Islami dan sarat dengan nilai-nilai Qur’ani. Selain itu, orang tua juga harus memahami peran penting mereka dan lingkungan terhadap pembentukan karakter anak.

Wagub berharap, seminar ini dapat dijadikan sebagai sebuah momen strategis dalam rangka pembenahan dan pembangunan rumah tangga yang ramah kepada anak selaku generasi penerus masa depan bangsa.

“Semoga Allah selalu memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua dan menjadikan kita sebagai pelopor pembangunan yang dapat memenuhi dan menciptakan lingkungan yang berkualitas bagi anak,” pungkas Wakil Gubernur Aceh.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BP3A Aceh, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Kepala Dinas Syari’at Islam, Ketua Darma Wanita Persatuan Aceh, para Kepala BP3A kabupaten/kota se Aceh, para akademisi, para guru, aparatur gampong, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat, para Ketua LSM/Organisasi Masyarakat Peduli Perempuan dan Anak.

Check Also

Nova: Kehadiran KIA Harus Jamin Keterbukaan Informasi Publik

Banda Aceh – Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengharapkan kehadiran Komisi Informasi Aceh (KIA) …