Home / Berita Terkini / Agus Rahardjo: Dari Penjahit, Satpam, Hingga Punggawa KPK

Agus Rahardjo: Dari Penjahit, Satpam, Hingga Punggawa KPK

Humas Aceh | 08 Feb 2016

Jakarta, CNN Indonesia — Agus Rahardjo membasuh dua matanya yang menitikkan air mata. Matanya sedikit memerah dan berkaca-kaca. Ia terdiam beberapa detik, kemudian berkata, “Berbicara mengenai masa kecil itu selalu membuat saya menangis. Saya memang mudah menangis. Anda melihat mata saya?”

Siapa sangka seorang ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah menjadi seorang penjahit dan satpam? Ya, itulah masa kecil pria asal Magetan, Jawa Timur, ini.
Terlahir dari keluarga yang sederhana, Agus terbiasa hidup mandiri. Sejak kecil, ia telah mencari rezeki. Ia mesti bergulat dengan kain dan mesin jahit selama delapan tahun.
“Itu karena kondisi memaksa. Saya mulai kelas 5 SD jadi penjahit di kakaknya Ibu saya dan dia pedagang di pasar, membuat pakaiannya sendiri dan saya jahit di situ,” cerita Agus saat berbincang dengan reporter CNNIndonesia.com Aghnia Adzkia, di kantornya, Jakarta, Kamis (28/1).
Di sela-sela sekolah, Agus menyempatkan waktu untuk merajut benang dan kain. Ia tak peduli berapa peluh dan waktu yang telah ia kucurkan saat bergumul dengan mesin jahit.
Jerih payahnya berbuah hasil. Dari receh yang ia kantongi, Agus dapat membeli kain berbahan Tetoron yang sempat menjadi tren 1970-an.
“Kalau saat SMP di tahun 1969 dan 1970, saya sudah bisa pakai baju Tetoron. Itu baju yang paling bagus. Itu saya beli sendiri,” kenangnya.

Menumpang Truk Sayur

Tamat sekolah, seakan tak ada pilihan, Agus mencari pekerjaan. Lagi-lagi, satu-satunya anak lelaki di keluarga Basoeki dan Suminah ini tak ingin menjadi beban keluarga. Agus punya visi yang lebih luas, ia berusaha merantau ke kota terbesar kedua di Indonesia: Surabaya.
“Tiap sore kalau dari Magetan ada truk yang ngangkut sayur ke Surabaya, saya nebeng itu ke Surabaya,” ujarnya.
Mencari pekerjaan bagi tamatan SMA kala itu cukup sulit. Pekerjaan pertama yang didapat yakni sebagai satpam.
“Saya kerja jadi satpam di Garden Hotel, Jalan Pemuda,” katanya.
Selama dua tahun, ia menjadi penjaga hotel yang hingga kini masih berdiri itu. Sadar kehidupannya monoton dan tak akan berkembang, Agus punya tujuan yang  lebih besar. “Tapi kemudian di situ saya berpikir, orang mau jadi gini terus? Setelah kerja dua tahun, saya daftar di (Teknik Sipil) ITS dan diterima tahun 1975,” katanya.
Agus pun melanjutkan studinya di perguruan tinggi tersebut dan bekerja menjadi konsultan di bidang kontraktor di Surabaya. Tak lama, ia berhijrah ke Jakarta.
“Saya kerja di kontraktor tapi saya melempar lamaran ke tiga tempat, Kementerian Perhubungan, Kementerian PU (Pekerjaan Umum), dan Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Di PU sudah diangkat, tapi jadi staf Bina Marga di Irian. Saya tidak berangkat. Tapi waktu Bappenas manggil, yang mempengaruhi kaka sepupu saya, kalau sekolah di situ pasti di sekolahan. Saya masuk Bappenas dan sudah tidak muda lagi, umur 30 jadi PNS pertama kali,” ceritanya.

Penyesalan Terdalam

Namun rupanya, keputusan Agus untuk melanjutkan sekolah ke ITS kemudian menjadi pegawai negeri adalah penyesalan terdalamnya hingga kini. Pada saat yang bersamaan, Agus sempat melamar pekerjaan di Kementerian Keuangan usai tamat SMA dan diterima sebagai pegawai di Kantor Bendahara di Ujung Pandang.
“Saya pernah menyesal. Itu salah satu momen yang pernah saya sesalkan. Tapi kemudian setelah dilihat, orang memang garisnya sendiri-sendiri.” ujarnya.
Penyesalan itu muncul belakangan, saat Agus bertemu dan berkenalan dengan seorang pegawai Kementerian Keuangan di Amerika. Agus yang telah lulus dan menjadi pegawai Bappenas itu tengah mengambil S2.
“Saya ketemu orang yang masuk ke Kemenkeu sudah sejak SMA tapi di Amerika sudah mengambil doktor. Itu wah saya, selalu ‘Tau gitu saya masuk ke sana (Kementerian Keuangan) ya’,” katanya.
Namun, Agus mengambil hikmah dari pelajaran hidupnya itu. Ia bercerita, si kawan yang telah meraih gelar doktor itu kini hanya berkarier hingga eselon III sementara dirinya telah mencapai maqam tertinggi di strata pegawai negeri.
“Tuhan sudah menentukan garisnya orang ya spesifik, takdirnya seperti itu,” ucapnya.
Selama menjadi pegawai negeri, Agus merasa nasibnya mujur lantaran pangkatnya dinaikkan selama tiga kali. Mulai tahun 200, ia menjabat tiga kali sebagai direktur di Bappenas, mulai dari Direktur Agama dan Pendidikan, Direktur Sistem Prosedur Pendanaan, hingga Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan yang menjadi embrio Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP).
Keteguhannya, tak pelak diperoleh lantaran mendapat semangat dari sang istri. “Kalau istri pegawai negeri itu kan harus menderitanya jangka panjang. Bayangkan saja saya di swasta tahun 86 itu gaji saya Rp750 ribu. Begitu masuk saya di Bappenas hanya menerima Rp165 ribu. Padahal saya mengangsur rumah saat itu dan angsurannya Rp125 ribu. Itu kan kemudian yang harus saya kagumi dengan istri bisa seperti itu. Sangat terbatas, tapi bisa mencarikreasi untuk bisa cukup. Itu hal yang saya kagumi,” ujarnya.

Berkebun dan Memelihara Ikan

Setelah berkecimpung di LKPP sejak 2007 hingga 2015, Agus memutuskan untuk pensiun. Ia kembali ke rumah dan giat melakukan hobinya, yaitu berkebun dan memelihara ikan.
“Saya beli keramba kecil seperti jaring apung itu ada 30 lubang, di Teluk Lampung. Itu saya tekuni setelah pensiun dari LKPP bulan Juli. Saya hampir tiap minggu ke sana, melihat itu. Kalau itu kan yang menarik mulai dari memijahkan ikan, telur dipijah yang telah dibuahi, dan kemudian dipindahkan ke keramba,” katanya.
Aktivitas lainnya pasca bertugas menjadi abdi negara yakni berkebun. Agus tercatat memiliki kebun di daerah Kabupaten Bogor seluas lima hektare. Ia gemar bercocok tanam di kebun tersebut.
Baru saja rehat dari akitvitas padat, Agus kembali merasa terpanggil untuk mengabdikan diri menjadi punggawa KPK. Dengan dukungan penuh dari keluarga termasuk istri, beragam seleksi ia lalui hingga dipercaya mengemban tugas sebagai pucuk pimpinan.
“Ya tujuannya untuk sedapat mungkin mencari amaliyah. Kalau orang muslim kan meninggal inginnya khusnul khotimah ya mencari amal. Ini untuk mewujudkan khusnul khotimah,” tuturnya.
Dunia LKPP dan dunia hukum jauh bertolak belakang. Namun Agus mengaku tak perlu banyak beradaptasi meski ia juga tak memiliki latar belakang pendidikan hukum.
“Dunia pekerjaan itu semakin ke puncak bukan hal teknis yang Anda butuhkan, yang diperlukan adalah pengetahuan mengenai manajerial. Jadi untung kami berlima lengkap. Saya dari manajemen. Dua orang lain dari hukum, yang satu bekas hakim dan yang satu profesor hukum, yang satu kepolisian, dan satu dari BIN (Badan Intelijen Negara). Ini komposisi yang ideal saling bisa mengisi,” bebernya.
Agus berharap, kontribusinya bersama pimpinan lainnya dapat mewujudkan Indonesia bebas korupsi. /    CNN Indonesia 

Check Also

Bantuan Keluarga Besar Pemerintah Aceh untuk Tim Medis Covid-19 Selesai Disalurkan

Banda Aceh – Penyaluran bantuan hasil donasi keluarga besar Pemerintah Aceh untuk 200 kepala keluarga …