Home / LINTAS ACEH / Kapolri Minta Perguruan Tinggi Masukkan Materi Radikalisme Dalam Mata Kuliah

Kapolri Minta Perguruan Tinggi Masukkan Materi Radikalisme Dalam Mata Kuliah

Humas Aceh | 26 Sep 2017

Nusa Dua – Dalam Seminar Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme di Bali Nusa Dua Convension Center (BNDCC) pada Senin 25 September 2017 Kapolri Jend (Pol) M Tiito Karnavian meminta perguruan tinggi di Indonesia memasukkan materi radikalisme dalam mata kuliah.

“Masalah terorisme dan radikalisme itu seharusnya menjadi mata kuliah di Universitas. Karena masalah terorisme dan radikalisme ini menjadi masalah yang komplek,” kata Kapolri menjawab tindakan kongrit guna menghalau paham radikalisme di Indonesia dari salah seorang peserta.

Menurut Kapolri, dalam implementasinya dalam menghalau radikalisme di Indonesia dibutuhkan integrasi antara pemerintah dan perguruan tinggi melihat masalah radikalisme begitu komplek di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga menyesalkan masuknya paham radikalisme di kampus-kampus yang ada di Indonesia.  .

“Di tataran implementasi memang masih ada permasalahan radikalisme, intinya  harus ada sinergi, intregrasi antara pemerintah dan perguruan tinggi. Kampus merupakan driving force bagi perubahan di Indonesia. Tapi saya sesalkan ada perguruan tinggi yang masuk idiologi radikal tersebut. Kami dari kepolisian siap bekerjasama dengan Perguruan tinggi untuk menangani masalah ini.” Tegas Kapolri.

Menurut Tito, tujuan dari radikalisme selalu ingin melemahkan keberadaan pemerintah, guna mengambil keuntungan politik dengan ancaman kekerasan.

“Tujuannya, mendelegitimasi pemerintah, dengan ancaman kekerasan. Itulah tujuanya mendelegitamasi pemerintah sampai tidak mampu melindungi warganya, nah dimana posisi radikalisasi, pengambilalihan kekuasaan,” tambahnya.

Selain itu, Menteri Agama Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Saifuddin menyatakan kelompok moderat di Indonesia harus lebih banyak bersuara guna menghadapi kelompok-kelompok radikal.

“Orang melakukan tindakan ekterm secara berlebihan, masalahnya tentu komplek, mereka berorentasi pada masa lalu, tidak punya harapan terhadap masa depannya. Seakan-akan dengan mengorbankan diri sendiri, dan orang lain adalah satu-satunya cara yang paling aman untuk mendapatkan syurga. Wawasan keagamaan menjadi penting, bagaimana mengembalikan pemahaman radikalisme extrem. Kalangan moderat dan perguruan tinggi harus lebih bersuara untuk mejelaskan moderasi Agama itu,” kata Lukman Hakim.

“Orang Moderat itu militasni itu terbatas, dia bisa memaklumi keadaan dan tantangan zaman, tantanganya orang moderat harus lebih banyak bersuara, untuk membangun bangsa ini,” tambah Lukman.

“Radikalisme itu rongsokan dari peradaban Arab yang sedang kalah, mengapa harus kita beli disini,” kata Buya Syafii Maarif.

Dalam seminar tersebut, ditegaskan bahwa perguruan tinggi di Indonesia harus menjadi benteng utama untuk  tumbuh kembangnya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

“Jadikan perguruan tinggi sebagai penjaga sekaligus  benteng utama tumbuh dan hidupnya nilai-nilai pancasila berlandaskan tridarma perguruan tinggi, untuk menyangkal dan menolak berkembangnya paham radikalisme dan torisme, intolenrasni dan hidupnya paham-paham yang anti NKRI, Anti Pancasila, Anti UUD 194 dan  Bhinika  Tunggal Ika.”.

“Sangat penting dilakukan tindakan nyata aktual dan kongktit pada masa kini oleh perguruan tinggi, untuk melakukan aksi kebangsaan melawan radikalisme di kampus masing-masing pasca acara ini. Untuk mengelorakan persatuan kebangsaan berlandaskan semangat kebangsaan, gotong royong, keadilan sosial dan kemanusiaan.”

Check Also

Gubernur Nova Tanggapi Pendapat Banggar DPRA

BANDA ACEH – Gubernur Aceh Nova Iriansyah memberikan tanggapan atas pendapat Badan Anggaran (Banggar) DPR …