Home / Berita Terkini / Gubernur Aceh: Butuh Kreativitas Hadapi MEA 2015

Gubernur Aceh: Butuh Kreativitas Hadapi MEA 2015

Banda Aceh, 22-10-2015 | Humas Aceh

Banda Aceh – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah berharap Management Creativity Festival (MCF) 2015 yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Syiah Kuala, bisa menjadi pendorong bagi kalangan usaha di Aceh agar menyadari pentingnya pengembangan manajemen kreatif di berbagai bidang yang digeluti.

Hal tersebut disampaikan oleh pria yang akrab disapa Doto Zaini itu, dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Asisten III Setda Aceh, Muzakar A Gani, saat membuka secara resmi MCF Tahun 2015, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Syiah Kuala, (Rabu, 21/10/2015).

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami mengucapkan selamat dan memberi apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini. Mudah-mudahan MCF mampu menginspirasi terbangunnya sistem manajemen yang baik dalam berbagai bidang usaha, khususnya dalam bidang industri kreatif sebagai fondasi ekonomi Aceh demi menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015,” ujar Gubernur.

Menurut Gubernur, setiap kegiatan apapun dan di manapun, yang melibatkan sekumpulan orang dan memerlukan kerjasama apakah itu sifatnya profit oriented atau non-profit oriented pastilah membutuhkan pengelolaan atau manajemen yang baik.

“Dalam bahasa sederhana, manajemen dapat diartikan sebagai strategi pengelolaan secara formal, modern atau tradisonal karena intinya manajemen mengandung makna to manage, yakni bagaimana mengatur, apa yang di atur, siapa yang mengatur, dan untuk apa itu diatur.

Karena sifatnya mengelola, lanjut Gubernur, maka dapat dipahami betapa pentingnya kemampuan manajemen dalam suatu organisasi atau usaha. Menurut para ahli, manajement adalah seni mengatur proses pemanfaatan SDM dan Sumber Daya Non Manusia secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.

Gubernur juga menjabarkan, manajemen adalah suatu proses yang melibatkan kegiatan perencanaan, perorganisasian, pengalaman dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

“Manajemen yang baik adalah bagaimana mengatur alur implementasi agar berjalan sesuai dengan prinsip dan fungsi manajemen. Namun dalam kenyataannya, langkah ini tidak semudah yang dibahas dalam teori.”

Menurut Gubernur, hal tersebut terjadi karena dari sisi kepentingan individu atau organisasi, terkadang muncul hal yang tidak sinkron. “Jika ini yang terjadi, maka yang muncul adalah Mismanagement. Usaha yang dikelola dengan metode yang ‘salah urus’ tentu saja akan membuat usaha berantakan, gulung tikar, terlilit utang, pailit dan sebagainya.”

Kondisi itu menurut Gubernur kerap terjadi dalam berbagai bidang usaha yang dikelola masyarakat. Itu sebabnya ilmu manajemen harus terus berkembang sesuai dengan kreativitas pengelolanya sebagai jawaban atas persaingan pasar yang semakin ketat.

Butuh Kreativitas Hadapi MEA 2015

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengingatkan tentang pentingnya managemen yang kuat serta kreativitas tinggi dalam pengelolaan sebuah usaha menyongsong MEA yang mulai berlaku pada akhir Desember 2015 ini. Persaingan dalam konteks pengelolaan usaha atau manajemen akan semakin ketat, karena kebijakan ini akan menempatkan ASEAN sebagai pasar bebas dari berbagai produksi.

Kebijakan MEA 2015 akan membuat arus barang, jasa, modal, investasi dan tenaga kerja antar sesama negara ASEAN semakin deras dan terintegrasi, di mana kondisi itu akan membuat persaingan sepenuhnya ditentukan oleh daya tarik pasar.

“Karena itu, menghadapi MEA 2015, mau tidak mau semua unit usaha harus kreatif membangun manajemen, jika tidak ingin tutup buku. Ilmu manajemen yang hanya berbasis kepada teori, tidak akan cukup untuk menjawab tantangan persaingan bebas itu,” tegas Doto Zaini.

Selain itu, Gubernur juga menekankan tentang pentingnya pengembangan dan peningkatan SDM dalam berbagai keahlian. Selain itu, kejelian membaca perilaku konsumen dan dinamika pasar adalah salah satu kuncinya.

“Hal inilah yang harus diperkuat di semua sektor usaha di negeri kita. Karena itu, kita harus segera mempersiapkan diri menghadapi persaingan bebas ini dengan menerapkan sistem manajemen yang kreatif di berbagai bidang usaha yang digeluti,” pungkas Gubernur Aceh.

Kegiatan yang mengangkat tema ‘Penguatan Industri Kreatif Sebagai Pondasi Ekonomi Aceh Menyongsong Berlakunya Kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015’ ini turut dihadiri oleh Rektor dan Pembantu Rektor Universitas Syiah Kuala,Dekan, Pembantu Dekan, dan seluruh civitas akademika Fakultas Ekonomi Unsyiah, Ketua HIPMI Aceh dan Ketua HIPMI Lampung. (Ngah)

Check Also

Masyarakat Padati Arena Pembukaan Festival Seudati di Pidie

Sigli- Masyarat antusias menyambut Pembukaan Festival Seudati Aceh tahun 2019 di Pidie. Pengunjung tampak memadati …